Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah masih dirayakan di tengah situasi pandemi COVID-19, sama seperti tahun lalu, di mana saat silaturahmi dilakukan tidak ada sentuhan atau pelukan antar-manusia.
Tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya yang dipenuhi energi baik silaturahmi tatap muka, tahun ini masyarakat masih harus menggantikan permintaan maaf melalui pesan teks atau video.
Selain itu, takbir keliling atau pun spanduk-spanduk perayaan Idul Fitri tampaknya juga ditiadakan dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Kita semua merasakan bahwa perayaan Idul Fitri kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin yang sebelumnya kita merayakan lebaran dengan berpakaian baru, dengan hidangan yang serba enak, akan tetapi pada Idul Fitri tahun ini kita dianjurkan untuk merayakannya secara sederhana dan hanya dengan keluarga yang serumah.
Pada saat bersamaan, tradisi lebaran juga diartikan sebagai momen bersilaturahmi, bertatap muka, serta saling bermaaf-maafan dengan sanak saudara, tetapi ada yang luput dari pengertian silaturahmi pada tataran spiritualitas. Imam Al-Ghozali dalam maqolahnya pada kitab Ihya ’Ulumuddin mengatakan bahwa esensi silaturahmi itu bukan pada bertemu secara fisik, tetapi idkholussurur ala qolbil mukmin.
Apalah arti kita bersilaturahmi secara tatap muka, tetapi menularkan virus yang membahayakan orang lain, bukan itu sejatinya silaturahmi. Alangkah lebih baiknya kita menghadirkan kebahagiaan kepada orang lain (idkholussurur ala qolbil mukmin) dengan mengganti pertemuan secara fisik dengan saling bertegur sapa melalui media sosial, WhatsApp (WA), video call, dan aplikasi daring lainnya sembari saling mendoakan keselamatan agar dijauhkan dari ganasnya wabah Covid-19 atau bahkan mengirimi mereka kebutuhan yang diperlukan, maka sejatinya itu adalah ’’silaturrahmi”.
Bahkan, silaturahmi pun harus memuat sisi keselamatan yang utuh, bukan mementingkan tradisi, sehingga apa yang sebetulnya bagi kita baik malah mendatangkan bahaya kepada orang lain, alih-alih ingin membuat orang lain bahagia, tapi malah mendatangkan malapetaka.
Hemat saya, pada momen Hari Raya Idul Fitri ini, semoga umat Islam Indonesia benar-benar mampu memaknai Idul Fitri secara spiritual, bukan hanya ritualnya semata, sehingga apa yang disebut dengan kembali ke fitrah itu mampu mendatangkan kesalehan pasca hari raya Idul Fitri.
Manifestasi kesalehan tanda kita kembali fitri adalah jika kita mematuhi anjuran pemerintah untuk physical distancing, memakai masker kemana pun kita pergi, mencuci tangan dan menjaga kesehatan, tidak mudik maupun pulang kampung, dan tentunya berlebaran di rumah saja tidak beranjangsana.
Selamat berlebaran, jangan menyerah dan jangan terserah, mari rayakan dengan menebar kebaikan dan kerja-kerja kemanusiaan.
Semoga kita semua benar2 menjadi orang yang kembali fitrah dan dijauhkan dari wabah Covid-19. Aamiin Yaa Robbal 'Alaamiin.
Blitar, 27 Ramadhan 1442 H