Kamis, 26 Januari 2023

Destinasi Perjalanan Menuju Desa Ngadipuro

Traveling tidak harus selalu pergi ke tempat yang indah dan mahal saja. Berpergian ke desa terpencil dan berinteraksi dengan penduduk lokal menghadirkan kenangan tersendiri yang tak terlupakan. Kisah ini bukan traveling yang seperti orang lain lakukan, lebih tepatnya ini KKN atau Kuliah Kerja Nyata yang merupakan salah satu mata kuliah wajib yang ada di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU Tulungagung).

Pada kesempatan KKN Gelombang 1 tahun 2023 kali ini saya mendapat tugas sebagai DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) di Desa Ngadipuro, Kec. Wonotirto, Kab. Blitar. 

***

Rabu (25/01/2023). Pukul 06.00 saya buka WA Grup KKN Ngadipuro 1, saya ketik chat di laman grup "mohon saya dikirimi serlok Balai Desa Ngadipuro." Jeda beberapa menit muncul kiriman serlok dari salah satu mahasiswa, yaitu Mas Labib.

Pukul 08.30 saya berangkat menuju ke Desa Ngadipuro ditemani motor Honda Vario 150. Sambil memandangi google map saya pun terus berkendara. Di sepertiga perjalan kami mulai disuguhkan dengan jalan yang menanjak dan sangat rusak. Meski demikian saya tetap enjoy menikmati perjalanan.

Tidak lama kemudian saya pun terkesima melihat pemandangan alam sekitar. Saya pun memandangi lukisan alam yang langsung di gambar oleh sang Maha Pencipta. Pemandangan ini saya lihat nampak seperti bukit teletubies, ya karena bukit ini terlihat sangat hijau dan membentuk gundukan-gundukan semacam bukit. Saya pun sejenak meminggirkan motor dan mencoba menikmati pemandangan ini. Tentunya tidak lupa dong saya foto pemandangan ini. Hehe.

Perjalanpun saya lanjutkan, sampailah saya di Kecamaran Wonotirto. Jarak Desa Ngadipura dengan Kecamatan Wonotirto kurang lebih 8 km.

Desa Ngadipuro merupakan wilayah yang terdiri dari pemukiman penduduk, tanah tegalan, perkebunan rakyat, lahan persawahan dengan luas wilayah desa 1.859.660 Km atau 1.859.660 Ha. Dimana seluas 989.567 Ha adalah pemukiman penduduk dan sisanya adalah lahan kering & areal persawahan. Wilayah desa Ngadipuro dilewati sungai Serit sepanjang 5 km.

Saya perhatikan sekilas Desa Ngadipuro. Bukan desa yang terpencil, tapi memang aksesnya naik turun karena daerah dataran tinggi. Jalannya beraspal, tapi rusak berat. Penduduk setempat menyebutnya dengan Jelongan Sewu. Ya, karena jalan ini banyak lubangnya. Inilah yang menjadikan keseruan destinasi perjalanan saya. 


Sambil menikmati jalanan yang rusak dan berlubang saya terus berkendara menyusuri jalalan menuju ke Balai Desa ngadipuro melalui google map. Wal hasil alih-alih saya tidak sampai ke Balai Desa, malah saya blusukan di kebun kelapa. Perasaan saya pun merasa tidak enak, jangan-jangan serloknya salah ini. Saya pun mencoba menghubungi Mas Rofiq, ketua kelompok KKN Ngadipuro 1. Saya telpon via VC, mas, benar ini to jalan ke arah balai desa? Dan benar dugaan saya. "Ngapunten pak, itu tadi serloknya yang dikirim salah, itu tadi serloknya menuju posko pak. Coba jenengan lihat google map terbaru yang sudah dishare di grup". Lah dalah, benar dugaan saya. Saya pun langsung membuka WA Grup membuka serlok terbaru, dan saya langsung putar balik menuju ke arah Balai Desa sesuai serlok.

Alhamdulillah, tepat pukul 10.18 WIB saya tiba di Balai Desa Ngadipuro. Molor 18 menit dari jam yang seharusnya, ya karena tadi kesasar blusukan ke kebun kelapa. Hehe. Tiba di Balai Desa, saya pun langsung menginterogasi salah satu mahasiswa yang sudah salah mengirimkan serlok ke saya.

Pada kesempatan tugas DPL kali ini saya didampingi oleh Ibu Arina Husna Zaini selaku DPL 2 Desa Ngadipuro. Beliau sudah duduk manis di kursi depan menunggu kedatangan saya. Tepat jam 10.30 MC pun mengambil kendali acara pembukaan KKN. Acara pembukaan diawali dengan bacaan surah Al-Fatihah. 

Setelah MC selesai membuka acara, dilanjukan dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur'an. Acara selanjutnya yaitu sambutan. Kesempatan pertama diberikan kepada Kordes KKN Ngadipuro. Dalam sambutannya mas Lutfi Dwi Kurniawan selaku Kordes menyampaikan perihal tujuannya berada di Desa Ngadipuro, sekaligus secara tidak langsung ingin bersilaturahim dengan warga di desa ini. Mas Kordes menyampaikan tujuan teman-teman mahasiswa berada di sini adalah untuk melaksanakan KKN, sebagai salah satu mata kuliah wajib yang harus kami tempuh, dan juga sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, adapun nanti akan ada berbagai program kerja yang akan disusun atas sepengetahuan dan seijin pihak desa. Beliau juga berharap program kerja yang dibuat nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat desa Ngadipuro pada umunya dan pembelajaran bagi teman-teman mahasiswa pada khususnya. 

Mbak MC kembali memegang kendali, kesempatan kedua diberikan kepada saya selaku DPL 1 KKN Ngadipuro. Segera saja saya memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan. Dalam hal ini saya menyampaikan terima kasih banyak kepada pihak desa Ngadipuro yang telah memberikan wadah atau tempat untuk melaksanakan pengabdian. Saya juga berpesan kepada peserta KKN agar selalu menjaga sopan santun dan dapat berbaur dengan masyarakat Desa Ngadipuro dengan baik. Terakhir saya menyerahkan teman-teman mahasiswa KKN Ngadipuro 1 dan 2 kepada Bapak Kades.

Kesempatan berikutnya diberikan kepada Bapak Eko Wahyudi, selaku Kepala Desa Ngadipuro. Dengan pidato singkat bapak kepala desa, ia memaparkan gambaran kondisi desa terkait dan memberikan semangat motivasi kepada para mahasiswa dalam mengabdi kepada masyarakat.

Beliau berharap agar kedatangan kelompok KKN ini membawa perubahan pada Desa Ngadipuro. “Saya harap untuk adek-adek KKN ini bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh desa Ngadipuro” katanya.

 

Semoga, dengan adanya acara pembukaan ini memberikan awal yang baik dalam memulai kegiatan KKN di Desa Ngadipuro.