Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh bukan hanya sekadar identitas pergerakan. Sisi spiritual dan sosial tak boleh terpisah, bagaikan dua sisi mata uang. Tidak cukup hanya dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah kita beribadah, seperti ritual shalat, tetapi ibadah sosial lainnya wajib dilakukan.
Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini terjadi kerena sebuah sebab-akibat, baik yang terstruktur maupun non struktur, baik yang bersifat rasional atau non-rasional. Inilah kemudian yang disebut Law Of Attraction.
Namun, untuk menanam nilai-nilai Religiuitas dan Spritualitas kedalam akal-fikiran kita membutuhkan ke-imanan atau keyakinan yang kuat untuk merespon suatu sebab akibat yang diluar nalar akal-fikiran.
Sebagai hamba yang patuh terhadap Tuhan-Nya, tidak ada alasan untuk berpaling dari perintah-Nya. Namun perlu diketahui bahwa untuk bisa berbuat amal sholeh dibutuhkan iman yang kuat sebagai motor untuk menggerakan anggota tubuh supaya beramal sholeh.
Ketika amal perbuatan tanpa didasari iman, maka akan berubah aplikasi, yakni menjadi amal salah. Ingat!, bukan amal sholeh, tapi amal salah. Jadi, pertama kali yang dilakukan oleh seorang hamba untuk bisa melahirkan amal sholeh adalah dengan mengasah iman dan terus memperbaharuinya.
Sebetulnya kalau kita patuh dan menyelami makna dan hakikat Tri Motto PMII yang pertama (Dzikir), kemudian dilanjudkan yang ke dua (Fikir), maka ke-imanan kita ter asah dan meningkat.
Karena itulah, ulama sepakat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Sedangkan Dzikir dan Fikir merupakan bentuk ibadah atau ketaatan. Bukti kongkrit jika ketaatan menjadikan iman bertambah atau meningkat. Keterangan Sayyidina Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengajak masyarakat untuk taat kepada Allah dengan ajakan untuk menambah iman.
هَلُمُّوا نَزْدَدْ إِيمَانًا
“Mari kesini kalian, kita akan menambah iman.”
Maksudnya adalah melakukan kajian atau ketaatan lainnya. Dari sinilah seorang warga pergerakan di wajibkan agar selalu mengadakan kajian-kajian, terutama materi tentang tri logi PMII dan ke-Aswajaan agar iman meningkat, sehingga ber implikasi kepada lahirnya amal sholeh.
Tapi situasi dan kondisi yang terjadi saat ini adalah keringnya ghiroh para kader untuk melakukan hal itu sudah mulai pudar, lebih-libih jika sudah menjadi pengurus.
Padahal, sebetulnya jika kita memahami posisi yang di tempati oleh pengurus merupakan post yang paling urgen dan strategis untuk melakukan Kajian-Kajian sehingga menjadikan motivasi tersendiri buat kader dan anggota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar