Salah satu sifat yang dimiliki oleh semua orang ialah marah (ghodob). Sifat marah tersebut harus kita jaga dan kita kendalikan. Selain memiliki aspek positif, marah juga memiliki dampak negatif. Dampak negatif itulah yang paling dominan.
Marah bisa jadi potensi kreatif seseorang apabila diarahkan menjadi energi yang mendorong kita kepada perilaku-perilaku baik untuk membela kepentingan agama. Sebaliknya, marah juga dapat menjadikan kerusakan, orang Arab menyebutkan:
أَوَّلُ الْغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ
“Awal mula marah itu gila, dan akhirnya adalah penyesalan.”
Islam sebagai agama langit yang terakhir, tidak hanya mengatur masalah-masalah yang besar saja, seperti tata negara, kemasyarakatan dan dakwah. Melainkan juga mengatur masalah-masalah kecil, seperti halnya marah. Mulai dari marah yang kelihatannya sebuah perkara kecil, sejatinya besar sekali dampaknya yang bisa mengakibatkan kehancuran. Maka dari itu, termasuk tanda-tanda orang yang bertaqwa yaitu bisa menahan amarah. Sebagaimana Firman Allah SWT:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ. وَاللَّهُ
يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“... Dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)
Rasulullah SAW membagi jenis marah menjadi empat bagian, yaitu:
…أَلاَ وَإِنَّ مِنْهُمُ البَطِيءَ الغَضَبِ سَرِيعَ الفَيْءِ وَمِنْهُمْ
سَرِيعُ الغَضَبِ سَرِيعُ الفَيْءِ فَتِلْكَ بِتِلْكَ أَلاَ وَإِنَّ
مِنْهُمْ سَرِيعَ الغَضَبِ بَطِيءَ الفَيْءِ أَلاَ وَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ
الغَضَبِ سَرِيعُ الفَيْءِ أَلاَ وَشَرُّهُمْ سَرِيعُ الغَضَبِ بَطِيءُ
الفَيْءِ…(رواه الترميذي فى السنن(
“Ingatlah, bahwa sebagian anak Adam itu ada yang susah marah namun mudah reda. Sebagian lagi ada yang mudah marah namun mudah pula redanya. Sebagian lagi ada yang mudah marah namun susah redanya. Ingatlah, yang paling baik yaitu susah marah dan cepat redanya. Ingatlah, yang paling buruk yaitu cepat marah dan susah redanya.”
Allah SWT melaknat kepada orang-orang yang tidak bisa mengendalikan amarahnya, sebagaimana Firman Allah SWT:
وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ
الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ
بِذَاتِ الصُّدُورِ
“... Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena marah dan benci kepadamu. Katakanlah, “Matilah kamu karena kemarahanmu itu!” sungguh, Allah Maha mengetahui segala isi hati.” (QS. Ali ‘Imron: 119)
Laknat atau kutukan Allah seperti ini, pernah ditimpa oleh Abu Jahal. Beliau tiba-tiba mati mendadak, setelah mendapat kabar bahwa kafir Quraisy kalah dalam perang Badar. Nabi Yunus AS, juga pernah diuji oleh Allah SWT dimakan ikan paus selama 40 hari. Akibat dari marahnya Nabi Yunus AS sehingga meninggalkan kaumnya.
Maka benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بالصُّرَعَةِ.؛إِنَّمَا الشَدِيدُ
الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ( متفق عليه(
“Orang yang kuat itu bukan yang bisa
membuat lemah orang lain. Tetapi, orang kuat itu ialah orang yang bisa menahan
amarahnya.”
Wallahu A’lam Bisshowab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar