Kamis, 23 Februari 2017

BAHAYA CINTA DUNIA

Belajar dari masa lalu, hiduplah pada masa kini, dan rencanakan masa depan. Orang yang beriman sehat dan benar mampu menjadikan masa lalu sebagai mimpi yang indah dan masa depan dengan penuh harapan.

Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa masa lalu membuatnya menderita dan membuatnya kehilangan segala-galanya. Seorang ibu rumah tangga berkata, bahwa perceraian telah membuatnya tidak percaya siapapun dan ia bersumpah tidak akan menikah lagi. Jika kita menemukan fenomena seperti itu sebaiknya kita jawab, hiduplah masa kini, usahakan tampil enjoy agar kita mampu menikmati indahnya kehidupan. Mari kita bangun dan kita rawat hati kita agar menjadi hati yang tetapikhlas dalam meniti kehidupan.

“Amal yang berasal dari hati penuh keikhlasan tak dapat dianggap sedikit, dan amal yang berasal dari hati penuh ketamakan tak dapat dianggap banyak.”

Amal yang dilakukan oleh orang zahid tidak dapat dikatakan sedikit. Mengapa demikian? Jawabannya: karena kemungkinan ikhlasnya sangat besar, tidak didorong oleh kepentingan dunia, ambisi dan semata-mata dilakukan lillahi ta’ala. Sebaliknya, amal yang dilakukan oleh orang-orang yang tamak diantarkan oleh sederet kepentingan dunia dan terbuka peluang beramalkarena didorong atau supaya dipuji oleh sesama makhluk mengalahkan ridha yang Maha Kuasa.

Jika cinta pada dunia berkurang, maka penglihatan batin, kearifan, dan kebijaksanaan akan meningkat. Amal yang bersumber dari hati yang sehat laksana tanaman yang sehat, akan tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, hati yang sakit dan terganggu hanya akan berakibat selalu salah.

Merupakan suatu kekeliruan dan kebodohan paling dalam jika manusia menjadikan harta dan sebagai tujuan hidupnya. Marilah kita merenungkan firman Allah Surah Ali Imran ayat 14, yang artinya:

“Dijadikan indah pula (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Kata zuyyina adalah fi’il madhi (kata kerja lampau) dalam bentuk mabni majhul (bentuk pasif), yang artinya dihiaskan. Arti kata zuyyina dalam permulaan ayat 14 ialah: dihiaskan kepada manusia rasa suka kepada hal-hal yang diinginkan berupa wanita, anak, harta benda yang banyak, berupa emas, perak, kuda yang bagus, binatang ternak serta ladang dan sawah. Pertanyaannya: siapa yang menghiaskan kepada manusia sehingga ia menjadi suka kepada hal-hal tersebut? Dalam hal ini kalangan para ulama memiliki dua pendapat:

Pertama, pendapat bahwa yang menjadikan manusia suka pada wanita dan harta adalah setan. Karena pada akhir ayat tersebut dikatakan bahwa tempat kembali di sisi Allah yang baik adalah surga, yang jauh lebih baik daripada harta dunia.

Kedua, pendapat bahwa yang menjadikan manusia suka pada wanita dan harta adalah Allah, yaitu untuk menguji kemampuan orang-orang mukmin dalam mengendalikan perasaan suka dan cintanya itu agar tetap wajar dan mengikuti ketentuan agama serta aturan-aturan syariat yang benar. Pendapat kedua inilah yang disetujui jumhur ulama.

Sebenarnya, manusia menjadikan harta dan anak sebagai tujuan hidupnya bukanlah suatu hal yang terlarang, karena manusia tidak dapat terhindar dari mencintainya. Namun sedikit sekali orang yang memahami keburukan atau bahayanya, walaupun bukti-bukti cukup jelas, dan banyak yang menunjukkan keburukan dan bahayanya itu. Sesungguhnya Allah menjadikan tabiat manusia cinta pada harta benda dan kesenangan. 

Oleh karena itu, Allah menjadikan harta benda dan kesenangan sebagai sarana menguji keimanan seseorang, apakah dia akan menggunakan semua harta dan kesenangn itu untuk kehidupan duniawi saja atau dia akan menggunakan harta bendanya untukmencapai ridha Allah. Hal ini sesuai dengan Surah al-Kahfi ayat 7, yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa segala yang ada di atas bumi ini diciptakan sebagai perhiasan bagi bumi, baik binatang maupun tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari berbagai jenis di lautan dan di daratan, termasuk barang tambang. Semua itu untuk menguji manusia apakah mereka dapat memahami dengan kal pikirannya bahwa itu semua menunjukkan adanya Sang Pencipta, tentunya untuk senantiasa mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Benda-benda kesenangan manusia secara terperinci adalah sebagai berikut:

1.    Perempuan (istri)
Istri adalah tumpuan cinta dan kasih sayang, jiwa manusia selalu cenderung tertuju pada istri, sebagaimana firman Allah Surah Rum ayat 21, yang artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteramkepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.”

Sebagian besar hasil uaha kaum laki-laki yang diperoleh dengan susah payah diperuntukkan bagi anak dan istri. Dalam ayat tersebut, mencintai istri disebutkan terlebih dahulu daripada mencintai anak-anak, walaupun cinta kepda istri itu dapat luntur, sedangkan cinta kepada anak tidak; karena cinta kepada anak jarang sekali berlebih-lebihan seperti halnya mencintai perempuan.

2.    Anak laki-laki atau perempuan
Cinta kepada anak adalah fitrah manusia sama dengan cinta kepada istri karena tujuannya untuk melanjutkan keturunan. Anak, sebenarnya adalah hiasan rumah tangga, penerus keturunan dari generasi ke generasi. Tetapi dia dapat berubah menjadi cobaan. Allah berfirman dalam Surah at-Taghabun ayat 15, yang artinya:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaab (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”   
    
3.    Harta kekayaan
Emas dan perak amatlah disenangi, karena keduanya adalah alat penilai harga sesuatu. Orang yang memilikinya sama dengn orang yang memiliki segala sesuatu. Memiliki berarti menguasai. Berkuasa adalah salah satu kesempurnaan yang diinginkan oleh semua manusia. Harta yang melimpah ruah akan akan menggoda hati manusia serta menyibukkan mereka sepanjang hari untuk mengurusnya. Hal ini sudah barang tentu dapat melupakan orang kepada Allah dan kehidupan akhirat. Cinta kepada harta telah menjadi tabiat buruk manusia karena harta adalah alat untuk memenuhi keinginan. Keinginan manusia memang tidak ada batasnya. Raulullah saw bersabda:

“Sekiranya manusia itu mempunyai satu lembah harta, niscaya ia ingin yang kedua (satu lembah lagi). Kalau ia mempunyai dua lembah, niscaya ia ingin yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah mengampuniorang-orang yang bertaubat kepadanya.”

4.    Kuda yang dipelihara dipadang rumput
Terutama kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya sehingga tampak sebagai tanda. Bagi masyarakat Arab sampai sekarang kuda yang semacam itu sangat dicintai dan merekaberlomba-lomba untukdapat memilikinya.

5.    Binatang ternak
Seperti sapi, unta, kambing merupakan harta kekayaan yang cukup menarik bagi manusia dan sebagai kebanggaan tersendiri dalam hidup di tengah-tengah masyarakat. Bahkan kebutuhan hidup mereka bergantung dan dipenuhi dari hasil ternak binatang-binatang itu.

6.    Sawah dan ladang
Sawah dan ladang adalah sumber kehidupan manusia dan hewan. Kebutuhan manusia pada sawah dan ladang melebihi kebutuhan mereka kepada harta lainnya, karena sawah dan ladang adalah sumber pemenuhan kebutuhan seseorang, yaitu sebagai sumber pangan yang merupakan kebutuhan primer yang sangat mendasar.

Semoga bermanfaat, aamiin.  

Sabtu, 11 Februari 2017

KENALI DULU LAWAN BICARAMU


Ketika saya sedang iseng-iseng membuka aplikasi play store yang ada di handphone saya, dan saya melihat-lihat aplikasi yang muncul di layar handphone saya. Kemudian saya geser touch screen ke bawah dan di situ muncul aplikasi yang menurut saya cukup menarik, aplikasi itu bernama “999 Kumpulan Cerita Lucu dan Humor”. Lalu aplikasi tersebut saya download dan setelah terpasang saya buka aplikasinya. Tepat di daftar judul yang keenam, judulnya yaitu “Dosen Fisika Koplak Yang Sadis”. Kemudian saya membaca isi cerita dari judul tersebut, dan setelah saya baca ternyata isinya tidak sekoplak judulnya. Menurut saya judul tersebut lebih mengarah kepada pesan moral yang sangat penting. Seperti inilah isi dari judul “Dosen Fisika Koplak Yang Sadis”:

Suatu ketika di salah satu kampus/perguruan tinggi terdapat dua perbincangan antarmahasiswa yang bernama Jono dan Rodhin:

Jono: “Eh lu anak baru ya?”
Rodhin: “Iya..”
Jono: “Hati-hati lu sama dosen Fisika, kalau salah sedikit bias digampar, dan nggak pernah dia kasih nilai A, pelit banget deh pokoknya dia kalau kasih nilai
Rodhin: “Ooh… gue udah tau”
Jono: “Iya, dosennya udah jelek, gembel gitu mukanya, mana miskin lagi!”
Rodhin: “Ooh… gue udah tau”
Jono: “Pokoknya ntar kalau pulang kita kerjain yuk! Kita siram pake air got, kalau perlu kita gebukin tuh guru jelek! Eh, ngomong-ngomong kok lu dari tadi bilang kalo lu udah tau sih?”
Rodhin: “Gue kan anaknya ….”
Jono: @_@

Nah, itulah isi cerita dari “Dosen Fisika Koplak Yang Sadis”, dari cerita itulah kemudian saya berfikir dan mengambil sisi pesan moral dari cerita tersebut. Jadi, pesan moral yang dapat kita ambil dari percakapan antara Jono dan Rodhin yaitu “kenali dulu lawan bicaramu”. Kenapa mengenal lawan bicara itu sangat penting? Ya, menurut saya memang sangat penting. Kita harus mengenal siapa sebenarnya kerabat kita, teman kita, saudara kita, bahkan seseorang yang baru kita kenal. Kita harus mengenal seseorang tidak hanya sebatas kenal nama dan alamat saja. Tetapi, kita juga harus mengenal lebih detail siapa sebenarnya teman dekat kita. Ketika kita baru mengenal orang jangan hanya menanyakan nama, tapi tanyakan juga siapa dia, siapa saja kerabat dekatnya, dan kalau perlu tanyakan siapa orang tuanya. Mengapa demikian? Ya… supaya tidak akan terjadi cerita Jono dan Rodhin edisi kedua. Hehehe

Sooo, saya berpesan kepada murid saya, mahasiswa saya, kolega saya, saudara saya, dan siapa sajalah pokoknya. Kenalilah seseorang jangan hanya sebatas nama dan alamat saja. Tapi, kenalilah orang-orang yang ada didekat kita, minimal kita tau siapa dia dan siapa orang-orang yang ada didekat mereka.

Pesan khusus buat kolega saya, baik teman dosen maupun guru: kiranya penting kita sampaikan pesan moral seperti ini kepada peserta didik kita. Kita sebagai seorang pendidik sudah selayaknya tidak hanya mengajarkan pendidikan saja kepada peserta didik kita. Sampaikanlah juga dakwah yang bermanfaat bagi kehidupan sosial peserta didik kita. Sampaikan kepada peserta didik kita bahwa mengenal seseorang jangan hanya sebatas nama dan alamat saja. Tetapi, kenalilah secara detail siapa dia dan siapa orang-orang yang berada didekat mereka. Pesan ini perlu saya sampaikan tidak lain dengan tujuan supaya tidak ada lagi Jono-Jono yang lain di luar sana. Hehehe.

Semoga bermanfaat.

   
        




Jumat, 03 Februari 2017

REZEKI DARI ORANG-ORANG APES


Pagi itu cak Nasikin sedang berdiri mematung. Ditatapnya sepeda tua yang sedang teronggok di parkiran sebelah asrama ma’had. Sudah cukup lama rupanya onthel antik itu merana sendirian di sana. Dan sekarang, kehadiran motor tiger kesayangannya telah menggantikan peran sepeda peninggalan orang tuanya itu.

“Kasihan nasibmu,” gumam Cak Kin. “Kamu terlupakan, karena ada yang lebih macho dan lebih cepat darimu.”

Kehidupan masyarakat modern memang dituntut untuk serba cepat dan cekatan. Dewasa ini, semua sektor pekerjaan terbantukan dengan hadirnya alat-alat yang super canggih. Harapannya supaya pekerjaan rampung lebih cepat dan tersisa waktu luang untuk menikmati hidup lebih banyak. Dulu, ibu-ibu memasak di dapur dengan menggunakan tungku dan kayu bakar. Butuh beberapa jam untuk menghidangkan satu jenis makanan saja. Kini, tinggal menekan tombol magic com dan micro wave, dalam hitungan menitpun semua siap disajikan. Dulu bepergian ditempuh dengan berjalan kaki. Berpuluh kilometer butuh ditempuh seharian utuh. Kini dengan pesawat, jarak ratusan kilometer bisa ditempuh dengan dalam hitungan menit saja. Singkat kata, masyarakat modern tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan semua kebutuhan hidupnya. Tetapi, benarkah orang-orang modern mempunyai waktu luang lebih banyak? Ahhh, rasanya tidak!

Cak Kin mendekati onthel tuanya yang tampak berdebu dan di sana-sini banyak serawang/sarang laba-labanya itu. Di sapunya debu dan sarang laba-laba. Usssh... Cak Kin menutup hidung menghindari debu yang beterbangan. Lalu ia mengetes bel sepeda yang ada di sisi kanan stang. Kring..., kring..., kring.... Masih terdengar nyaring rupanya. Dipencetnya ban yang tampak kempes. Dasar Cak Kin, sudah jelas kempes masih juga dipencet! Hahaha.

“Wualah, bannya sudah parah. Sepertinya harus diganti,” Cak Kin berbicara sendiri.

Dengan motor tiger kesayangannya, Cak Nasikin segera menuju Pasar Ngunut yang terletak agak jauh di sebelah Timur ma’had. Tujuannya tidak lain ialah membeli ban sepeda. Di pasar itu ada beberapa kios yang menjual serba-serbi onderdil sepeda. Rantai, sadel, rem, stang, dan beberapa suku cadang lainnya. Ban sepeda dengan berbagai ukuran juga pasti ada. Kini Cak Nasikin sudah berada di depan kios-kios itu. Beberapa kios terlihat cukup ramai pembeli. Tidak mau mengantri lama-lama, Cak Nasikin memilih kios yang terlihat sepi. Kios yang paling pojok.

“Mau cari apa, Pak?” tanya penjaga kios.

“Nyari ban,” jawab Cak Kin.

“Kecil apa besar?”

“Sepeda tua peninggalan orang tua,” jelas Cak Kin.

“Ooooo ....”

Penjual itu segera memeriksa salah satu rak di bagian sebelah kanan kiosnya. Beberapa tumpukan barang diobrak-abrik. Cak Kin melayangkan pandangan ke semua sudut kios yang penuh dengan barang-barang dagangan itu.

“Ngomong-ngomong, sudah berapa lama jualan alat sepeda begini, Pak?” tanya Cak Kin
.
“Wah ... sudah lama, Pak,” jawab si penjual sambil terus mencari ban yang diinginkan Cak Kin. “Mungkin sudah lebih dari dua puluh tahun.”

“Haaahhh? Sudah lama juga ya ....”

“Ya lumayanlah.”

“Pembelinya banyak, Pak?”

“Ya cukuplah, kalau tidak kan sudah tutup dari dulu saya,” jawab si penjual sambil menyodorkan ban yang dubutuhkan Cak Kin.

Cak Nasikin segera membayar sesuai harga dari penjual tanpa menawar sama sekali. Dan ia segera beranjak pulang.

***

Asyik membersihkan sepeda tuanya, Cak Kin tengah mengelap bagian yang terkena debu dengan kain gombal. Bagian yang sudah berkarat disapu dengan oli bekas. Kini sepeda itu sudah tampak lebih muda. Sudah siap digunakan kembali atau dilego sebagai barang antik. Hanya tinggal memasang ban baru.

“Assalamu’alaikum!” Rohmat tiba-tiba nongol.

“Wa’alaikum salam .... Wah, kali ini kamu datang tepat pada waktunya, Mat,” ucap Cak Nasikin. “Tolong bantu masang ban, ya! ....”

Mendengar permintaan Sang Guru, tanpa basa-basi Rohmat segera jongkok di samping Cak Kin. Diperiksanya bungkusan ban yang baru dibeli Cak Kin. Ada ban luar dan ban dalam. Sebanyak dua pasang. Untuk roda depan dan belakang. Dilihatnya merek dan ukuran ban yang masih terbungkus rapi itu.

“Berapa harganya, Cak?” tanya Rohmat.

“Hmmm ...., 250 ribu,” jawab Cak Kin.

“Hah? Yang benar, Cak!”

“Iya, nggak salah kok!”

“Hahaha. Cak, Cak,” kali ini Rohmat yang menertawakan Sang Guru.

“Kenapa, Mat?”

“Hari ini sampean lagi apes, Cak!” ujar Rohmat masih setengah tertawa. “Itu kemahalan,” lanjutnya.

Cak Kin hanya menatap Rohmat.

“Pasti belinya di toko yang paling pojok itu,” Rohmat menebak.

“Kok kamu tahu, Mat?”

“Itu toko paling mahal, Cak. Semua orang sudah tahu itu.”

“Ooooo ...,” Cak Kin tampak berpikir. Mungkin menyesali nasib apesnya.

Tangan Rohmat dengan cekatan mebuka as roda dengan kunci pas, sementara Cak Nasikin hanya diam. Pandangannya kosong. Sepertinya ada sesuatu yang tengah dipikirkan.

“Sudah, nggak usah disesali Cak,” ujar Rohmat menghibur Sang Guru, belagak tahu apa yang tengah dipikirkan gurunya.

Tidak menanggapi ucapan Rohmat, Cak Nasikin tetap diam.

“Kalau begitu orang apes itu jumlahnya banyak ya, Mat,” ujar Cak Kin tiba-tiba.

“Kok bisa, Cak?” Rohmat segera menghentikan kegiatannya membuka ban dan bersiap mendengarkan kalimat penjelasan dari Sang Guru.

“Lha buktinya pedagang yang di toko paling pojok itu bisa berjualan selama dua puluh tahun lebih, berarti kan setiap hari selalu ada beberapa orang yang ketiban sial,” ucap Cak Nasikin sambil terus merenung.

“Hidup memang menarik. Ada jutaan cara Tuhan memberi penghidupan kepada setiap penghuni alam semesta. Ada yang mendapat rezeki karena ilmunya. Ada yang ketiban rezeki dari tenaganya. Ada pula yang mendapat kucuran rezeki dari ketampanan ataupun kecantikannya. Dan yang lebih menarik, ada juga yang mendapat rezeki dari kesialan yang dialami orang lain.”

Kini Rohmat nampak ikut-ikutan berpikir. Entah mengerti, entah bingung.

Pedagang di sudut Pasar Ngunut tempat Cak Kin membeli ban adalah salah satu contohnya. Sepertinya alam semesta memang tak pernah kehabisan jalan untuk memenuhi kebutuhan penghuninya.

Pada tahun delapan puluhan hampir semua pengamat dan ahli kependudukan mencemaskan keadaan yang terjadi di pulau Jawa pada tahun 2000. Saat itu, penyanyi Doel Sumbang merilis sebuah lagu yang melukiskan kekhawatiran atas keadaan yang mungkin terjadi pada tahun 2000 di Jawa. Penggalan syair lagu itu adalah sebagai berikut:

Tahun 2000 tubuhnmu tenggelam

Tahun 2000 kami tidur berdiri

Tahun 2000 kami semua tinggal di sawah-sawah, kebun bahkan kolam

Mencemaskan bukan? Tetapi kini tahun 2000 sudah lewat beberapa tahun lalu. Lihatlah kenyataan yang terjadi di pulau Jawa. Kehidupan tetap berlangsung dengan aman-aman saja. Para pedagang tetap melakukan aktivitas jual beli, para petani tetap bercocok tanam, dan karyawan tetap berangkat pagi pulang sore bahkan sampai malam hari. Bussiness as usual! Kalau dikatakan keadaan makin sulit, kita tidak memungkirinya. Tetapi, bukaknkah kehidupan sulit itu juga berlangsung pada tahun-tahun sebelumnya? Bukankah kita sering mendengar kakek nenek kita menyampaikan bahwa mereka dulu menghadapi kenyataan hidup yang lebih mencekik?

“Sepertinya alam semesta memang cerdas ya, Cak?” ujar Rohmat.

“Cerdas?”

“Buktinya alam tetap menemukan cara memenuhi kebutuhan semua makhluk,” jelas Rohmat.

“Kamu juga rada cerdas sekarang, Mat!”

“Kok pakai rada, Cak?”

“Hahaha,” Cak Kin tertawa keras. “Tetapi ... masih saja ada orang yang tidak percaya, Mat.”

“Maksudnya?”

“Mereka tidak percaya bahwa Sang Maha Pencipta sudah menyiapkan mekanisme alami kelangsungan hidup penghuni bumi dan akibatnya mereka memilih cara-cara tidak halal agar tetap bisa hidup,” jawab Cak Nasikin.

“Dan berapa banyak hewan bergerak yang tidak dapat mengurus rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[1] Begitulah al-Qur’an menegaskan kepada kita. Tetapi apabila lebih jeli mengamati, bukan hanya hewan yang tidak bisa mengurus rezekinya sendiri. Tak terhitung manusia yang juga tidak bisa mengurus rezekinya. Hanya perbedaannya, hewan percaya dan menyerahkan semua kelemahannya kepada Sang Maha Mengurus, sedangkan manusia tidak.

Perhatikanlah cicak! Ia tercipta hanya bisa berjalan merayap perlahan di dinding. Sedangkan makanannya adalah nyamuk, hewan kecil yang hampir sepanjang hidupnya dihabiskan dengan terbang ke sana-ke mari. Menurut logika, cicak harus bisa terbang agar bisa memangsa nyamuk. Atau sebaliknya, nyamuk tidak boleh terbang agar bisa disergap cicak. Tetapi bukan itu faktanya. Dan anehnya sampai saat ini cicak belum punah dari muka bumi.

Barangkali tidak ada salahnya kita menyanyikan kembali lagu masa kanak-kanak kita dulu, yang berjudul “Cicak-cicak di Dinding”.

Cicak-cicak di dinding

Diam-diam merayap

Datang seekor nyamuk

Hap ... lalu ditangkap

Perhatikanlah pesan lagu masa kecil yang sangat terkenal itu! Cicak tinggal merayap diam-diam dan nyamuk sang makananlah yang ternyata datang menghampiri. Hanya diam dan merayap yang bisa dilakukan cicak, tetapi kenyataannya mereka masih saja hidup dengan nyaman.

Cicak memang telah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Sang Maha Mengurus, sehingga tidak pernah kekurangan. Walau tidak bisa membaca, tetapi cicak paham pesan dari langit bahwa, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan keperluannya.”[2]  

Aduuuh, malu rasanya sama cicak!


   
  






[1] QS. al-“ankabut [29]: 60
[2] QS. ath-Thalaq [65]: 3

Kamis, 02 Februari 2017

CERITA DI BALIK MENGAPA: DHOROBA ZAIDUN 'AMRON?

Sebagai santri pesantren salaf bahkan alumni pesantren salaf ataupun madrasah diniyah kita pasti tidak asing dengan nama Zaid dan Umar. Mengapa dalam kitab-kitab alat khususnya dalam ilmu nahwu baik Jurumiyah, 'Imrithy, Al-fiyah, dan lain-lain yang jadi selebritis dan selalu dijadikan contoh itu Ki Zaid, Ki Umar, Utsman, Ali, Bakar, Kholid, dan Hindun? Apakah ada rahasia dibalik semua itu? Sebagai contoh kalimat yang sering kita jumpai dalam kitab nahwu yaitu "Dhoroba Zaidun 'Amron" (Zaid memukul Umar), kenapa kok tidak memakai contoh "Dhoroba Fikriyun kalbun" (Fikri memukul anjing), janganlah nanti yang punya anjing marah, hehehe. Atau mungkin pada waktu itu belum ada nama Fikri, aaaahh... itu mah gak penting.

Selain itu kenapa sih nama 'Amrun harus ada waw di depan huruf ro nya? Kalian bingung kan gimana ceritanya? Saya aja juga bingung. hehe. Nah sekarang jangan bingung, karena ane bakal bercerita, lengkap dengan nash yang ada dalam kitab nya. Cerita ini diambil dari kitab :

النظرات للشيخ مصطفى لطفي بن محمد لطفي المنفلوطي المتوفى ١٣٤٣ هجرية بمصر

Dalam jilid 1 halaman 307 di ceritakan :

أراد داود باشا أحد الوزراء السالفين في الدولة العثمانية أن يتعلم اللغة العربية فأحضر أحد علماءها

سأل شيخه يوما ما الذي جناه عمرو من الذنوب حتى استحق أن يضربه زيد كل يوم ويقتله تقتيلا ويبرح به هذا التبريح المؤلم

وهل بلغ عمرو من الذل والعجز منزلة من يضعف عن الانتقام لنفسه وضرب ضاربه ضربة تقضى عليه القضاء الأخير

سأل شيخه هذا السؤال وهو يتحرق غيظا وحنقا ويضرب الأرض بقدميه

فأجابه الشيخ : ليس هناك ضارب ولا مضروب

وإنما هي أمثلة يأتي بها النحاة لتقريب القواعد من أذهان المتعلمين

فلم يعجبه هذا الجواب

فغضب عليه وأمر بسجنه

ثم أرسل إلى نحوي آخر فسأله كما سأل الأول فأجابه بنحو جوابه فسجنه كذالك

ثم مازال يأتي بهم واحدا بعد واحد حتى امتلأت السجون وأفقرت المدارس

وأصبحت هذه القضية المشئومة الشغل الشاغل له عن جميع قضايا الدولة ومصالحها

ثم بدا له أن يستوفد علماء بغداد فأمر بإحضارهم فحضروا وقد علموا قبل الوصول إليه ماذا يراد بهم

وكان رئيس هؤلاء العلماء بمكانة من الفضل والحذق والبصر بموارد الأمور ومصادرها

فلما اجتمعوا في حضرة الوزير أعاد عليهم السؤال بعينه

فقال داود الوزير ما هي جنايته

فقال له إنه هجم على اسم مولانا الوزير واغتصب منه الواو فسلط النحويون عليه زيدا يضربه كل يوم جزاء وقاحته وفضوله

يشير إلى زيادة واو عمرو وإسقاط الواو الثانية من داود في الرسم

فأعجب الوزير بهذا الجواب كل الإعجاب

وقال لرئيس العلماء :أنت أعلم من أقلته الغبراء وأظلته الخضراء فاقترح علي ما تشاء

فلم يقترح عليه سوى إطلاق سبيل العلماء المسجونين

فأمر بإطلاقهم وأنعم عليهم وعلى علماء بغداد بالجوائز والصلات

Di ceritakan: Ada seorang gubernur dari Daulah Utsmaniyah yang bernama Daud Basya, dia ingin belajar bahasa Arab. Kemudian dia menghadirkan salah seorang ulama dari ulama-ulama di negrinya. Suatu hari dia bertanya kepada gurunya, "apa kesalahan si 'Amrun sampai-sampai si Zaid memukul nya tiap hari?". "Apakah 'Amrun punya kedudukan lebih rendah dari Zaid sehingga Zaid bebas memukulnya, menyiksanya dan 'Amrun tidak bisa membela dirinya?". Si gubernur menanyakan ini sambil menghentakkan kakinya ke tanah disertai dengan marah-marah. Kemudian gurunya menjawab: "tidak ada yang di pukul, tidak ada yang memukul wahai gubernur, ini cuma sebagai contoh saja yang di buat oleh ulama nahwu supaya memudahkan untuk belajar ilmu lughah itu".

Kemudian jawaban ini tidak memuaskan si gubernur tadi, dan ia marah lalu ia penjarakan gurunya tadi. Kemudian ia menyuruh orang mencari ulama nahwu yang lain, kemudian ia tanya kepada mereka seperti pertanyaan itu, dan mereka menjawab dengan jawaban seperti ulama yang pertama tadi. Kemudian mereka juga dipenjarakan oleh si gubernur, satu per satu ulama negri itu tidak bisa memuaskan gubernur dengan jawabannya. Akhirnya, penuh lah penjara dan sunyi lah madrasah-madrasah dari guru-guru pengajar, dikarenakan ulamanya semua terpenjara. Kejadian ini menjadi pembahasan dimana-mana dan bgaimana mencari jalan keluarnya. Kemudian si gubernur menyuruh utusannya untuk menjemput para ulama-ulama ahli bahasa di Bagdad lalu di hadirkan di hadapannya.

Akhirnya, pimpinan ulama yang paling alim dari para ulama Bagdad ini berani maju menjawab pertanyaan gubernur tadi. Maka gubernur Daud bertanya: Apa kesalahan 'Amrun sehingga selalu di pukuli oleh Zaid? Maka ulama tadi menjawab: Kesalahan 'Amrun adalah karena ia telah mencuri huruf waw yang seharusnya itu milik anda wahai gubernur. Sambil ulama tadi mengisyaratkan adanya huruf waw di kalimat 'Amrun setelah ro (عمرون), dan huruf waw yang saharusnya ada dua di kalimat daud (دوود) ternyata cuma ada satu (دود). Maka para ulama nahwu menguasakan si Zaid untuk slalu memukul 'Amrun, sebagai hukuman atas perbuatannya itu. Maka sangat puaslah gubernur dengan jawaban ulama ini, dan gubernur memuji ulama tadi. Kemudian gubernur menawarkan hadiah, "apa saja yang kamu kehendaki silahkan sebutkan", kata si gubernur. Lalu ulama tadi menjawab: Aku cuma minta agar para ulama yang anda penjarakan di bebaskan semuanya. Maka gubernur mengabulkan nya, dan akhirnya para ulama itu bebas semuanya dari penjara dan ulama-ulama dari bagdad tadi di beri hadiah sekaligus diberi uang transport dan diantar kembali ke negri mereka.

Naaah... begitulah ceritanya, kenapa Zaid selalu memukuli 'Amrun. Sekarang tidak usah bingung yaaa!!! Hehe.

Semoga bermanfaat
Wallahu 'allam.

Rabu, 01 Februari 2017

HUKUM MUSHOFAHAH DAN CIUM TANGAN

Mushofahah (bersalaman) sambil membungkukkan badan diperbolehkan selama tidak mencapai posisi sebagaimana orang ruku' ketika sholat (bila mencapai posisi ruku' maka hukumnya makruh namun tidak sampai haram apalagi syirik). Bahkan menurut Al-Hafidz Al-'Iroqi mencium tangan atau kaki orang orang mulia dengan maksud tabarruk merupakan perbuatan baik dan terpuji berdasarkan tujuan dan niatnya.

Sebagaimana kita ketahui dan juga setelah membaca kedua dokumen di atas bahwa hukum mencium tangan dapat kita bagi menjadi dua hukum :

1. Mencium tangan seseorang karena dunianya, ataupun pangkatnya, seperti halnya pejabat (gubernur bupati, dsb), orang orang kaya dan sebagainya hukumnya makruh

2. Mencium tangan seseorang karena akhiratnya, dan sebagainya, seperti para ‘alim, guru dan para kerabat yang lebih tua adalah sunnah dan dianjurkan.

Seakan akan cium tangan ada yang direndahkan. Budaya cium tangan dari kerajaan kerajaan yang ada di Indonesia. Faidahnya adalah :

1. Agar tidak menjadikannya kebiasaan yangmenjadikan seorang ‘alim bertabia mengulurkan tangannya kepada murid-muridnya, yang kemudian menjadi tabi’at (si murid) untuk bertabarruk dengannya. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam meskipun tangan beliau dicium para sahabat, maka kejadian itu sangatlah jarang. Jika demikian,maka tidak diperbolehkan menjadikan hal itu sebagai sunnah yang dilakukan secara terus-menerus sebagaimana diketahui dalam kaidah fiqhiyyah.

2. Agar tidak membiarkan hal menjadi kesombongan seorang ‘alim kepada yang lainnya dan pandangannya terhadap dirinya sendiri sebagaimana hal itu terjadi pada sebagian masyaikh saat ini.

ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ ﺗﻘﺒﻴﻞ ﻳﺪ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﺓ , ﺃﺑﺎﺣﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﻣﻨﻌﻪ ﺁﺧﺮﻭﻥ . ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﺴﻤﻰ ﺧﻀﻮﻋًﺎ ﻭﻻ ﺍﻧﺤﻨﺎﺀً ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ ؛ ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ ﺍﻻﻧﺤﻨﺎﺀ ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ , ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﻘﺒﻞ ﺭﺃﺳﻴﻬﻤﺎ.

Begitu juga mencium tangan ayah atau ibu itu dibolehkan oleh sebagian ulama dan dilarang oleh sebagian ulama yang lain. Merundukkan badan yang terjadi saat mencium tangan orang tua itu tidak bisa disebut sebagai merendahkan diri dan membungkuk (baca: ruku) kepada selain Allah karena pelakunya tidak meniatkan dengan hal tersebut sebagai ruku kepada selain Allah"

 
ﻓﺎﻹﻣﺎﻡ ﻣﺎﻟﻚ ﻳﻘﻮﻝ : ﺇﻥ ﺗﻘﺒﻴﻞ ﺍﻟﻴﺪ ﻫﻮ ﺍﻟﺴﺠﺪﺓ ﺍﻟﺼﻐﺮﻯ. ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻳﻤﻨﻊ ﺫﻟﻚ. ﻭﺃﺑﺎﺡ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻳﻀًﺎﺗﻘﺒﻴﻞ ﻳﺪ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ , ﺃﻭ ﻳﺪ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ . ﻟﻜﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﺗﺮﻙ ﺫﻟﻚ ﻟﻠﻪ , ﻓﺘﻘﺒﻴﻞ ﺭﺃﺱ ﺃﻣﻚ ﺃﻭ ﺭﺃﺱ ﺃﺑﻴﻚ ﺃﻓﻀﻞ, ﻭﻻ ﺑﺄﺱ. ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ .

 
Imam Malik mengatakan, “Sesungguhnya cium tangan itu adalah sujud kecil-kecilan”. Imam Syafii juga melarang cium tangan. Namun sebagian ulama membolehkan cium tangan orang tua atau cium tangan ulama. Namun yang lebih baik adalah meninggalkan hal tersebut karena Allah. Cium dahi ibu atau ayah (sebagai bentuk penghormatan) itulah yang lebih afdhol dan tidak mengapa untuk dilakukan”

.ﻣﺼﺪﺭ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ : ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺳﻤﺎﺣﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺣﻤﻴﺪﺹ256 ﺭﻗﻢ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﻓﻲ ﻣﺼﺪﺭﻫﺎ : 272

 
Fatwa ini dikutip dari buku Fatawa Samahatus Syeikh Abdullah bin Humaid hal 256 dengan nomor fatwa di buku tersebut 272

Cium tagan posisi tubuh bungkuk atau ruku tidak boleh, ruku dan sujud hanya kepada Alloh. Dari Anas bin Malik R.A, bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah, apabila ada di antara kami bertemu saudara atau kawan, bolehkah ia membongkok dirinya terhadapnya sebagai tanda hormat ?" Rasulullah S.A.W menjawab: "tidak" Orang itu bertanya lagi: "Boleh dia dipeluk dan dicium?" Rasulullah S.A.W menjawab: "tidak." Orang itu bertanya lagi: "Bolehkah memegang tangan lalu menjabat tangannya?" Rasulullah S.A.W menjawab: "Benar." (Hadith riwayat At-Tirmidzi berstatus

Dalam kitab Asnaa al-Mathaalib III/114 disebutkan: Dan disunahkan mencium tangan orang yang masih hidup karena kebaikannya dan sejenisnya yang tergolong kebaikan-kebaikan yang bersifat ‘diniyyah' (agama), kealimannya, kemuliaannya sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada baginda nabi Muhammad SAW dalam hadits riwayat Abu Daud dan lainnya dengan sanad hadits yang shahih. Baca :

وَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الْحَيِّ لِصَلَاحٍ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ كَزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَ شَرَفٍ كما كانت الصَّحَابَةُ تَفْعَلُهُ مع النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم كما رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ

 
Dan dimakruhkan mencium tangan seseorang karena kekayaannya atau lainnya yang bersifat duniawi seperti lantaran butuh dan hajatnya pada orang yang memiliki harta dunia berdasarkan hadits “Barangsiapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya hilanglah 2/3 agamanya” :

 

وَيُكْرَهُ ذلك لِغِنَاهُ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ كَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ من تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ

Anas r.a meriwayatkan:

ﻛﺎﻥ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﺗﻼﻗﻮﺍﺗﺼﺎﻓﺤﻮﺍ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻗﺪﻣﻮﺍ ﻣﻦ ﺳﻔﺮ ﺗﻌﺎﻧﻘﻮﺍ .

Maksudnya: “Bahwa para sahabat Nabi SAW apabila bertemu mereka bersalam-salaman dan apabila pulang dari safar (perjalanan jauh)mereka berpeluk-pelukan”. Hadis shohih riwayat Al-Tobroni.

Di dalam hadis yang lain diriwayatkan bahawaAisyah r.a berkata:

 
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺃﺧﺬ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀﻗﻂ ﺇﻻ ﺑﻤﺎ ﺃﻣﺮﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻭﻣﺎ ﻣﺴﺖ ﻛﻒ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﻒ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻗﻂ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻬﻦ ﺇﺫﺍ ﺃﺧﺬ ﻋﻠﻴﻬﻦ ﺍﻟﺒﻴﻌﺔ : " ﻗﺪ ﺑﺎﻳﻌﺘﻜﻦ ﻛﻼﻡ .

 

Maksudnya: “Demi Allah! Rasulullah SAW tidak pernah mengambil wanita melainkan apa yang diperintahkan Allah Taala ke atasnya dan tangan Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram), dan apabila berbai’ah baginda SAW akan berkata: Sesungguhnya aku telah berbai’ah dengan kamu secara percakapan saja.”

Pendapat ini adalah berdasarkan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ma’qal bin Yasaar:

ﻷﻥ ﻳﻄﻌﻦ ﻓﻲ ﺭﺃﺱ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺑﻤﺨﻴﻂ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺪ ﺧﻴﺮ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻤﺲ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻻ ﺗﺤﻞ ﻟﻪ " ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ.

 
Maksudnya: Jika seorang dari pada kamu dicucuk kepalanya dengan jarum daripada besi lebih baik baginya daripada bersalaman dengan wanita yang tidak halal baginya (mahram)”. Hadis riwayat Al-Tobrani dan Al-Baihaqi.

Semoga bermanfaat
Wallahu 'allam