Jumat, 03 Februari 2017

REZEKI DARI ORANG-ORANG APES


Pagi itu cak Nasikin sedang berdiri mematung. Ditatapnya sepeda tua yang sedang teronggok di parkiran sebelah asrama ma’had. Sudah cukup lama rupanya onthel antik itu merana sendirian di sana. Dan sekarang, kehadiran motor tiger kesayangannya telah menggantikan peran sepeda peninggalan orang tuanya itu.

“Kasihan nasibmu,” gumam Cak Kin. “Kamu terlupakan, karena ada yang lebih macho dan lebih cepat darimu.”

Kehidupan masyarakat modern memang dituntut untuk serba cepat dan cekatan. Dewasa ini, semua sektor pekerjaan terbantukan dengan hadirnya alat-alat yang super canggih. Harapannya supaya pekerjaan rampung lebih cepat dan tersisa waktu luang untuk menikmati hidup lebih banyak. Dulu, ibu-ibu memasak di dapur dengan menggunakan tungku dan kayu bakar. Butuh beberapa jam untuk menghidangkan satu jenis makanan saja. Kini, tinggal menekan tombol magic com dan micro wave, dalam hitungan menitpun semua siap disajikan. Dulu bepergian ditempuh dengan berjalan kaki. Berpuluh kilometer butuh ditempuh seharian utuh. Kini dengan pesawat, jarak ratusan kilometer bisa ditempuh dengan dalam hitungan menit saja. Singkat kata, masyarakat modern tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan semua kebutuhan hidupnya. Tetapi, benarkah orang-orang modern mempunyai waktu luang lebih banyak? Ahhh, rasanya tidak!

Cak Kin mendekati onthel tuanya yang tampak berdebu dan di sana-sini banyak serawang/sarang laba-labanya itu. Di sapunya debu dan sarang laba-laba. Usssh... Cak Kin menutup hidung menghindari debu yang beterbangan. Lalu ia mengetes bel sepeda yang ada di sisi kanan stang. Kring..., kring..., kring.... Masih terdengar nyaring rupanya. Dipencetnya ban yang tampak kempes. Dasar Cak Kin, sudah jelas kempes masih juga dipencet! Hahaha.

“Wualah, bannya sudah parah. Sepertinya harus diganti,” Cak Kin berbicara sendiri.

Dengan motor tiger kesayangannya, Cak Nasikin segera menuju Pasar Ngunut yang terletak agak jauh di sebelah Timur ma’had. Tujuannya tidak lain ialah membeli ban sepeda. Di pasar itu ada beberapa kios yang menjual serba-serbi onderdil sepeda. Rantai, sadel, rem, stang, dan beberapa suku cadang lainnya. Ban sepeda dengan berbagai ukuran juga pasti ada. Kini Cak Nasikin sudah berada di depan kios-kios itu. Beberapa kios terlihat cukup ramai pembeli. Tidak mau mengantri lama-lama, Cak Nasikin memilih kios yang terlihat sepi. Kios yang paling pojok.

“Mau cari apa, Pak?” tanya penjaga kios.

“Nyari ban,” jawab Cak Kin.

“Kecil apa besar?”

“Sepeda tua peninggalan orang tua,” jelas Cak Kin.

“Ooooo ....”

Penjual itu segera memeriksa salah satu rak di bagian sebelah kanan kiosnya. Beberapa tumpukan barang diobrak-abrik. Cak Kin melayangkan pandangan ke semua sudut kios yang penuh dengan barang-barang dagangan itu.

“Ngomong-ngomong, sudah berapa lama jualan alat sepeda begini, Pak?” tanya Cak Kin
.
“Wah ... sudah lama, Pak,” jawab si penjual sambil terus mencari ban yang diinginkan Cak Kin. “Mungkin sudah lebih dari dua puluh tahun.”

“Haaahhh? Sudah lama juga ya ....”

“Ya lumayanlah.”

“Pembelinya banyak, Pak?”

“Ya cukuplah, kalau tidak kan sudah tutup dari dulu saya,” jawab si penjual sambil menyodorkan ban yang dubutuhkan Cak Kin.

Cak Nasikin segera membayar sesuai harga dari penjual tanpa menawar sama sekali. Dan ia segera beranjak pulang.

***

Asyik membersihkan sepeda tuanya, Cak Kin tengah mengelap bagian yang terkena debu dengan kain gombal. Bagian yang sudah berkarat disapu dengan oli bekas. Kini sepeda itu sudah tampak lebih muda. Sudah siap digunakan kembali atau dilego sebagai barang antik. Hanya tinggal memasang ban baru.

“Assalamu’alaikum!” Rohmat tiba-tiba nongol.

“Wa’alaikum salam .... Wah, kali ini kamu datang tepat pada waktunya, Mat,” ucap Cak Nasikin. “Tolong bantu masang ban, ya! ....”

Mendengar permintaan Sang Guru, tanpa basa-basi Rohmat segera jongkok di samping Cak Kin. Diperiksanya bungkusan ban yang baru dibeli Cak Kin. Ada ban luar dan ban dalam. Sebanyak dua pasang. Untuk roda depan dan belakang. Dilihatnya merek dan ukuran ban yang masih terbungkus rapi itu.

“Berapa harganya, Cak?” tanya Rohmat.

“Hmmm ...., 250 ribu,” jawab Cak Kin.

“Hah? Yang benar, Cak!”

“Iya, nggak salah kok!”

“Hahaha. Cak, Cak,” kali ini Rohmat yang menertawakan Sang Guru.

“Kenapa, Mat?”

“Hari ini sampean lagi apes, Cak!” ujar Rohmat masih setengah tertawa. “Itu kemahalan,” lanjutnya.

Cak Kin hanya menatap Rohmat.

“Pasti belinya di toko yang paling pojok itu,” Rohmat menebak.

“Kok kamu tahu, Mat?”

“Itu toko paling mahal, Cak. Semua orang sudah tahu itu.”

“Ooooo ...,” Cak Kin tampak berpikir. Mungkin menyesali nasib apesnya.

Tangan Rohmat dengan cekatan mebuka as roda dengan kunci pas, sementara Cak Nasikin hanya diam. Pandangannya kosong. Sepertinya ada sesuatu yang tengah dipikirkan.

“Sudah, nggak usah disesali Cak,” ujar Rohmat menghibur Sang Guru, belagak tahu apa yang tengah dipikirkan gurunya.

Tidak menanggapi ucapan Rohmat, Cak Nasikin tetap diam.

“Kalau begitu orang apes itu jumlahnya banyak ya, Mat,” ujar Cak Kin tiba-tiba.

“Kok bisa, Cak?” Rohmat segera menghentikan kegiatannya membuka ban dan bersiap mendengarkan kalimat penjelasan dari Sang Guru.

“Lha buktinya pedagang yang di toko paling pojok itu bisa berjualan selama dua puluh tahun lebih, berarti kan setiap hari selalu ada beberapa orang yang ketiban sial,” ucap Cak Nasikin sambil terus merenung.

“Hidup memang menarik. Ada jutaan cara Tuhan memberi penghidupan kepada setiap penghuni alam semesta. Ada yang mendapat rezeki karena ilmunya. Ada yang ketiban rezeki dari tenaganya. Ada pula yang mendapat kucuran rezeki dari ketampanan ataupun kecantikannya. Dan yang lebih menarik, ada juga yang mendapat rezeki dari kesialan yang dialami orang lain.”

Kini Rohmat nampak ikut-ikutan berpikir. Entah mengerti, entah bingung.

Pedagang di sudut Pasar Ngunut tempat Cak Kin membeli ban adalah salah satu contohnya. Sepertinya alam semesta memang tak pernah kehabisan jalan untuk memenuhi kebutuhan penghuninya.

Pada tahun delapan puluhan hampir semua pengamat dan ahli kependudukan mencemaskan keadaan yang terjadi di pulau Jawa pada tahun 2000. Saat itu, penyanyi Doel Sumbang merilis sebuah lagu yang melukiskan kekhawatiran atas keadaan yang mungkin terjadi pada tahun 2000 di Jawa. Penggalan syair lagu itu adalah sebagai berikut:

Tahun 2000 tubuhnmu tenggelam

Tahun 2000 kami tidur berdiri

Tahun 2000 kami semua tinggal di sawah-sawah, kebun bahkan kolam

Mencemaskan bukan? Tetapi kini tahun 2000 sudah lewat beberapa tahun lalu. Lihatlah kenyataan yang terjadi di pulau Jawa. Kehidupan tetap berlangsung dengan aman-aman saja. Para pedagang tetap melakukan aktivitas jual beli, para petani tetap bercocok tanam, dan karyawan tetap berangkat pagi pulang sore bahkan sampai malam hari. Bussiness as usual! Kalau dikatakan keadaan makin sulit, kita tidak memungkirinya. Tetapi, bukaknkah kehidupan sulit itu juga berlangsung pada tahun-tahun sebelumnya? Bukankah kita sering mendengar kakek nenek kita menyampaikan bahwa mereka dulu menghadapi kenyataan hidup yang lebih mencekik?

“Sepertinya alam semesta memang cerdas ya, Cak?” ujar Rohmat.

“Cerdas?”

“Buktinya alam tetap menemukan cara memenuhi kebutuhan semua makhluk,” jelas Rohmat.

“Kamu juga rada cerdas sekarang, Mat!”

“Kok pakai rada, Cak?”

“Hahaha,” Cak Kin tertawa keras. “Tetapi ... masih saja ada orang yang tidak percaya, Mat.”

“Maksudnya?”

“Mereka tidak percaya bahwa Sang Maha Pencipta sudah menyiapkan mekanisme alami kelangsungan hidup penghuni bumi dan akibatnya mereka memilih cara-cara tidak halal agar tetap bisa hidup,” jawab Cak Nasikin.

“Dan berapa banyak hewan bergerak yang tidak dapat mengurus rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[1] Begitulah al-Qur’an menegaskan kepada kita. Tetapi apabila lebih jeli mengamati, bukan hanya hewan yang tidak bisa mengurus rezekinya sendiri. Tak terhitung manusia yang juga tidak bisa mengurus rezekinya. Hanya perbedaannya, hewan percaya dan menyerahkan semua kelemahannya kepada Sang Maha Mengurus, sedangkan manusia tidak.

Perhatikanlah cicak! Ia tercipta hanya bisa berjalan merayap perlahan di dinding. Sedangkan makanannya adalah nyamuk, hewan kecil yang hampir sepanjang hidupnya dihabiskan dengan terbang ke sana-ke mari. Menurut logika, cicak harus bisa terbang agar bisa memangsa nyamuk. Atau sebaliknya, nyamuk tidak boleh terbang agar bisa disergap cicak. Tetapi bukan itu faktanya. Dan anehnya sampai saat ini cicak belum punah dari muka bumi.

Barangkali tidak ada salahnya kita menyanyikan kembali lagu masa kanak-kanak kita dulu, yang berjudul “Cicak-cicak di Dinding”.

Cicak-cicak di dinding

Diam-diam merayap

Datang seekor nyamuk

Hap ... lalu ditangkap

Perhatikanlah pesan lagu masa kecil yang sangat terkenal itu! Cicak tinggal merayap diam-diam dan nyamuk sang makananlah yang ternyata datang menghampiri. Hanya diam dan merayap yang bisa dilakukan cicak, tetapi kenyataannya mereka masih saja hidup dengan nyaman.

Cicak memang telah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Sang Maha Mengurus, sehingga tidak pernah kekurangan. Walau tidak bisa membaca, tetapi cicak paham pesan dari langit bahwa, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan keperluannya.”[2]  

Aduuuh, malu rasanya sama cicak!


   
  






[1] QS. al-“ankabut [29]: 60
[2] QS. ath-Thalaq [65]: 3

3 komentar: