Kamis, 23 Februari 2017

BAHAYA CINTA DUNIA

Belajar dari masa lalu, hiduplah pada masa kini, dan rencanakan masa depan. Orang yang beriman sehat dan benar mampu menjadikan masa lalu sebagai mimpi yang indah dan masa depan dengan penuh harapan.

Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa masa lalu membuatnya menderita dan membuatnya kehilangan segala-galanya. Seorang ibu rumah tangga berkata, bahwa perceraian telah membuatnya tidak percaya siapapun dan ia bersumpah tidak akan menikah lagi. Jika kita menemukan fenomena seperti itu sebaiknya kita jawab, hiduplah masa kini, usahakan tampil enjoy agar kita mampu menikmati indahnya kehidupan. Mari kita bangun dan kita rawat hati kita agar menjadi hati yang tetapikhlas dalam meniti kehidupan.

“Amal yang berasal dari hati penuh keikhlasan tak dapat dianggap sedikit, dan amal yang berasal dari hati penuh ketamakan tak dapat dianggap banyak.”

Amal yang dilakukan oleh orang zahid tidak dapat dikatakan sedikit. Mengapa demikian? Jawabannya: karena kemungkinan ikhlasnya sangat besar, tidak didorong oleh kepentingan dunia, ambisi dan semata-mata dilakukan lillahi ta’ala. Sebaliknya, amal yang dilakukan oleh orang-orang yang tamak diantarkan oleh sederet kepentingan dunia dan terbuka peluang beramalkarena didorong atau supaya dipuji oleh sesama makhluk mengalahkan ridha yang Maha Kuasa.

Jika cinta pada dunia berkurang, maka penglihatan batin, kearifan, dan kebijaksanaan akan meningkat. Amal yang bersumber dari hati yang sehat laksana tanaman yang sehat, akan tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, hati yang sakit dan terganggu hanya akan berakibat selalu salah.

Merupakan suatu kekeliruan dan kebodohan paling dalam jika manusia menjadikan harta dan sebagai tujuan hidupnya. Marilah kita merenungkan firman Allah Surah Ali Imran ayat 14, yang artinya:

“Dijadikan indah pula (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Kata zuyyina adalah fi’il madhi (kata kerja lampau) dalam bentuk mabni majhul (bentuk pasif), yang artinya dihiaskan. Arti kata zuyyina dalam permulaan ayat 14 ialah: dihiaskan kepada manusia rasa suka kepada hal-hal yang diinginkan berupa wanita, anak, harta benda yang banyak, berupa emas, perak, kuda yang bagus, binatang ternak serta ladang dan sawah. Pertanyaannya: siapa yang menghiaskan kepada manusia sehingga ia menjadi suka kepada hal-hal tersebut? Dalam hal ini kalangan para ulama memiliki dua pendapat:

Pertama, pendapat bahwa yang menjadikan manusia suka pada wanita dan harta adalah setan. Karena pada akhir ayat tersebut dikatakan bahwa tempat kembali di sisi Allah yang baik adalah surga, yang jauh lebih baik daripada harta dunia.

Kedua, pendapat bahwa yang menjadikan manusia suka pada wanita dan harta adalah Allah, yaitu untuk menguji kemampuan orang-orang mukmin dalam mengendalikan perasaan suka dan cintanya itu agar tetap wajar dan mengikuti ketentuan agama serta aturan-aturan syariat yang benar. Pendapat kedua inilah yang disetujui jumhur ulama.

Sebenarnya, manusia menjadikan harta dan anak sebagai tujuan hidupnya bukanlah suatu hal yang terlarang, karena manusia tidak dapat terhindar dari mencintainya. Namun sedikit sekali orang yang memahami keburukan atau bahayanya, walaupun bukti-bukti cukup jelas, dan banyak yang menunjukkan keburukan dan bahayanya itu. Sesungguhnya Allah menjadikan tabiat manusia cinta pada harta benda dan kesenangan. 

Oleh karena itu, Allah menjadikan harta benda dan kesenangan sebagai sarana menguji keimanan seseorang, apakah dia akan menggunakan semua harta dan kesenangn itu untuk kehidupan duniawi saja atau dia akan menggunakan harta bendanya untukmencapai ridha Allah. Hal ini sesuai dengan Surah al-Kahfi ayat 7, yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa segala yang ada di atas bumi ini diciptakan sebagai perhiasan bagi bumi, baik binatang maupun tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari berbagai jenis di lautan dan di daratan, termasuk barang tambang. Semua itu untuk menguji manusia apakah mereka dapat memahami dengan kal pikirannya bahwa itu semua menunjukkan adanya Sang Pencipta, tentunya untuk senantiasa mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Benda-benda kesenangan manusia secara terperinci adalah sebagai berikut:

1.    Perempuan (istri)
Istri adalah tumpuan cinta dan kasih sayang, jiwa manusia selalu cenderung tertuju pada istri, sebagaimana firman Allah Surah Rum ayat 21, yang artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteramkepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.”

Sebagian besar hasil uaha kaum laki-laki yang diperoleh dengan susah payah diperuntukkan bagi anak dan istri. Dalam ayat tersebut, mencintai istri disebutkan terlebih dahulu daripada mencintai anak-anak, walaupun cinta kepda istri itu dapat luntur, sedangkan cinta kepada anak tidak; karena cinta kepada anak jarang sekali berlebih-lebihan seperti halnya mencintai perempuan.

2.    Anak laki-laki atau perempuan
Cinta kepada anak adalah fitrah manusia sama dengan cinta kepada istri karena tujuannya untuk melanjutkan keturunan. Anak, sebenarnya adalah hiasan rumah tangga, penerus keturunan dari generasi ke generasi. Tetapi dia dapat berubah menjadi cobaan. Allah berfirman dalam Surah at-Taghabun ayat 15, yang artinya:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaab (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”   
    
3.    Harta kekayaan
Emas dan perak amatlah disenangi, karena keduanya adalah alat penilai harga sesuatu. Orang yang memilikinya sama dengn orang yang memiliki segala sesuatu. Memiliki berarti menguasai. Berkuasa adalah salah satu kesempurnaan yang diinginkan oleh semua manusia. Harta yang melimpah ruah akan akan menggoda hati manusia serta menyibukkan mereka sepanjang hari untuk mengurusnya. Hal ini sudah barang tentu dapat melupakan orang kepada Allah dan kehidupan akhirat. Cinta kepada harta telah menjadi tabiat buruk manusia karena harta adalah alat untuk memenuhi keinginan. Keinginan manusia memang tidak ada batasnya. Raulullah saw bersabda:

“Sekiranya manusia itu mempunyai satu lembah harta, niscaya ia ingin yang kedua (satu lembah lagi). Kalau ia mempunyai dua lembah, niscaya ia ingin yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah mengampuniorang-orang yang bertaubat kepadanya.”

4.    Kuda yang dipelihara dipadang rumput
Terutama kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya sehingga tampak sebagai tanda. Bagi masyarakat Arab sampai sekarang kuda yang semacam itu sangat dicintai dan merekaberlomba-lomba untukdapat memilikinya.

5.    Binatang ternak
Seperti sapi, unta, kambing merupakan harta kekayaan yang cukup menarik bagi manusia dan sebagai kebanggaan tersendiri dalam hidup di tengah-tengah masyarakat. Bahkan kebutuhan hidup mereka bergantung dan dipenuhi dari hasil ternak binatang-binatang itu.

6.    Sawah dan ladang
Sawah dan ladang adalah sumber kehidupan manusia dan hewan. Kebutuhan manusia pada sawah dan ladang melebihi kebutuhan mereka kepada harta lainnya, karena sawah dan ladang adalah sumber pemenuhan kebutuhan seseorang, yaitu sebagai sumber pangan yang merupakan kebutuhan primer yang sangat mendasar.

Semoga bermanfaat, aamiin.  

2 komentar:

  1. bagus, sedikit kritik : pilihan warna Font kurang kontras http://mafrhasyim.blogspot.com

    BalasHapus