Sabtu, 27 Juni 2020

LIMA PERKARA PENGHALANG KESHOLEHAN SESEORANG



Sayyidina Ali Karomallohu Wajhah pernah berkata:

عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَوْلَا خَمْسَ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِيْنَ اَوَّلُهَا اَلْقَنَاعَة ُبِالجَهْلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ وَالرِّياَ فِى الْعَمَلِ وَالْإعْجَابُ بِالرّأيِ
"Seandainya tidak ada lima perkara di dunia ini, maka manusia akan sholeh semuanya".
Demikian menurut pendapat Sayyidina Ali mengenai lima perkara yang dapat merusak tatanan masyarakat muslim, yang dapat mengakibatkan terjebaknya umat manusia di dalam kenistaan.

Lima perkara tersebut di antaranya yaitu:
1. Merasa senang dengan kebodohan, maksudnya masa bodoh dalam masalah keagamaan. Tidak mau berusaha mencari ilmu agama, sibuk bisnis dan macam-macam pekerjaan demi mencapai cita-citanya.

2. Merasa senang dengan gemerlapnya dunia.

3. Bakhil atas harta yang dimiliki. Sifat tama' dan bakhil itu adalah dua sifat yang tidak dapat terpisahkan (satu paket), sebab orang yang mempunyai sifat tama' pasti diikuti watak bakhil. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah menyinggung masalah tama' dan bakhil yang bisa membuat gelisah lahir dan batin.

الزّهْدُ فِى الدُّنْيَا يُرِيْحُ الْقَلْبَ وَالبَدَنَ وَالرُّغْبَةُ فِيْهَا تُتْعِبُ اْلقَلبَ وَاْلبَدَنَ (رواه الطبرانى).
Zuhud (meninggalkan keduniawian) itu menyenangkan hati dan badan, sedangkan cinta dunia membuat payah hati dan badan.

4. Riya' atau pamer di dalam melakukan suatu amal perbuatan, dan mengharapkan pujian dari orang lain. Rasulullah SAW menegaskan bahwa riya' itu termasuk dalam kategori syirik kecil.  Sebab wujud riya' yang tidak kelihatan, sifat tersebut ada di dalam hati. Para ulama' salaf mengibaratkan sifat riya itu seperti semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada waktu malam hari. Saking halusnya sifat riya' kita seringkali lena dan terjangkit penyakit tersebut.

5. Senang mengunggulkan diri sendiri (ujub). Yaitu merasa dirinya paling sempurna ketimbang orang lain. Sifat ujub dapat mengakibatkan kesombongan.

Demikianlah lima perkara yang dapat menghalangi manusia untuk menjadi orang yang sholeh menurut Sayyidina Ali Karomallohu Wajhah.

Semoga kita dapat mengambil hikmah untuk bahan renungan yang mendalam, untuk kita semua. Aamiin.

Semoga bermanfaat....
Wallahu A'lam Bisshowab.

Rabu, 24 Juni 2020

PRA-WEDDING SYNDROME


Sudah ada lamaran, tapi malah suka ke yang lain, gimana dong? Apa yang mesti saya lakukan? Apakah pernikahan saya dengan calon pasangan harus dibatalkan?
Eittt… jangan terburu-buru ketika mengambil keputusan. Lakukan semua tindakan dengan kedamaian dan ketenangan. Libatkan Allah sebagai Maha Segalanya dalam urusan kita.
Lantas apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan pra-wedding syndrome? Istilah ini saya dapatkan di dalam salah satu buku yang pernah saya baca. Di dalam buku tersebut dijelaskan bahwa pra-wedding syndrome adalah gejala yang muncul di mana seseorang merasa laku atau tiba-tiba banyak orang-orang yang deketin di saat menjelang pernikahannya.
Ketika misalkan kamu menghadapi fase ini kamu harus memperkuat iman, jangan sampai goyah karena adanya rayuan sesaat. Ingatlah, bahwa pernikahan itu bukan sekadar rencana permainan belaka. Namun, pernikahan itu merupakan ibadah sepanjang hayat, kehidupan yang akan kita rajut untuk masa pengabdian hingga ke liang lahat.
Di saat kita merasakan chemistry semu rasa suka pada seseorang, namun kita sudah lamaran, cobalah untuk merenung. Ingatlah Allah dalam segala aktivitasmu. Lakukanlah apa yang sekiranya akan membuatmu menyelesaikan permasalahanmu. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah SWT melarang umat muslim melamar pinangan di atas pinangan orang lain (saudara seiman). Sebagaimana hadis riwayat Ahmad dan Muslim mengatakan bahwa:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ص قَالَ: الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ فَلَا يَحِلُّ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَبْتَاعَ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلَا يَخْطُبَ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَذَرَ. (أحمد و مسلم)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin itu saudara orang mukmin yang lain, maka tidak halal bagi seorang mukmin menawar atas tawaran saudaranya, dan tidak boleh ia meminang atas pinangan saudaranya sehingga saudaranya itu meninggalkannya.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Dari hadis di atas sudah jelas bahwasanya kita dilarang menerima atau meminang di atas pinangan orang lain, kecuali atas dasar persetujuan dari pihak pertama yang berperan sebagai pinangan pertama.
Aturan seperti ini jelas merupakan buah dari proses yang panjang. Sebab, jika dalam hidup ini tidak ada aturan seperti ini, bagaimana nasib orang-orang yang tak berdosa nanti? Kalau istilah jaman sekarang dikenal dengan istilah “main tikung aja”. Hehe
Nah, jadi sebagai umat muslim, harusnya kita patuh dan taat akan segala aturan Allah SWT dan yang telah mencontohkan kehidupan kepada kita, yakni Rasulullah SAW. Jika kita sudah melaksanakan lamaran, cobalah untuk selalu menjaga diri dengan baik, jangan lirak lirik kanan kiri, hingga ada celah yang bisa dimasuki setan, membuat kamu tergoda oleh sosok yang dibisikkan bahwa seakan-akan lebih baik.
Perlu diingat pula, bahwa setan tidak menyukai orang yang hendak menikah. Maka, setan akan melakukan berbagai cara untuk menggoda dan menggoyahkan i’tikad baik dari diri kita. Semoga Allah SWT senantiasa membersamai hidup kita sampai ajal menjemput. Aamiin.

Semoga bermanfaat....
Wallahu A’lam Bisshawab.






Selasa, 23 Juni 2020

TRESNOKU TERHALANG ITUNGAN JOWO


Dalam rangka mengisi kegiatan liburan semester genap tahun akademik 2019/2020 DEMA FTIK IAIN Tulungagung mengadakan kajian kitab virtual (online). Kitab yang dikaji yaitu kitab Qurratul ‘Uyun (kitab tentang pernikahan). Pengajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Ahmad Fikri Amrullah, M.Pd.I.  
Pada kesempatan yang lain ada seorang mahasiswa yang bertanya mengenai kepercayaan orang tauanya mengenai hitungan jawa/primbon. Mahasiswa tersebut bertanya demikian: “Assalamu’alaikum Ustadz, orang tua saya masih percaya perhitungan primbon jawa termasuk dalam urusan menentukan kecocokan pasangan hidup. Apabila orang tua saya mendasarkan restu/ridhonya atas dasar perhitungan primbon jawa tersebut apakah saya wajib mengikutinya? Karena jika tidak mengikuti orang tua, saya takut kualat. Terima kasih.”

Jawaban:
Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Penanya yang dirahmati Allah, Allah SWT telah menghendaki kepada kita semua bahwa semua hari itu baik, dan ini termasuk penanaman pola pikir positif.
Primbon atau perhitungan Jawa yang banyak dipakai orang untuk memulai sesuatu pekerjaan, memberi nama anak atau bayi, menghitung nasib, karakter, peruntungan, jenis pekerjaan, jodoh, cinta, berdasarkan perhitungan tersebut tentu saja hal itu hanya sebuah peradaban yang tidak bisa dijadikan pegangan.
Ramalan bintang atau primbon adalah ilmu rekaan yang menghubung-hubungkan pergerakan bintang dalam sistem tata surya dengan sesuatu yang akan terjadi kemudian di kehidupan manusia. Menurut Islam, bintang-bintang itu adalah sebagian dari makhluk Allah SWT yang tunduk akan sunnah-Nya.
Jadi orang yang mempercayai ramalan bintang sebagai sesuatu yang benar, maka ia termasuk orang yang kufur. Mempercayai weton sebagai sebab kesialan atau keberuntungan termasuk bentuk syirik kecil karena keyakinan terhadap suatu “sebab” padahal dia bukan “sebab” adalah bentuk tiyarah (menganggap sial atas apa yang dilihat, didengar, atau diketahui), dan tiyarah itu dihukumi sebagai syirik kecil. Terutama, jika hal ini dijadikan alasan untuk menunda suatu rencana.
Dari Anas bin Malik R.A. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak boleh ada tiyarah, dan saya suka optimisme!” Beliau ditanya, “Apa maksud ‘optimisme’?” Beliau menjawab, “Kalimat yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam sebuah hadits lain juga dijelaskan:
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad No. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Persoalan nasib, jodoh, rezeki, mati, dan hari baik itu hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Manusia diberikan kesempatan oleh Allah untuk merencanakan dan berusaha semaksimal mungkin. Artinya, kita bisa merancang masa depan nasib, jodoh, rezeki, kecuali mati dengan kemampuan yang baik pula. Kalau sudah berusaha dengan maksimal, baru tawakal kepada Allah agar tidak menjadi hamba yang sombong.
Sedangkan dalam masalah wajibkah mentaati orangtua yang memerintahkan anaknya pada perbuatan maksiat, kalau tidak ditaati takut “kuwalat”. Perlu diketahui bahwa taat kepada orang tua adalah suatu kewajiban bagi seorang anak. Namun hal ini tidak berlaku mutlak.
Ketaatan pada keduanya mesti diselaraskan dengan kesesuaian pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika orang tua menyuruh kita untuk meninggalkan shalat, tentu tidak boleh ditaati. Begitu pula ketika orang tua menyuruh untuk mencopot jilbab, mempercayai primbon, dan lain sebagainya maka tidak boleh memaksakan kehendak pada anak. Karena semua itu adalah hak Allah yang mesti didahulukan daripada ketaatan pada orang tua. Rasulullah SAW bersabda:
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda:
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.
“Mendengar dan taat pada seorang muslim pada apa yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada mendengar dan taat.” (HR. Bukhari No. 7144).
Rasulullah SAW bersabda:
أَطِعْ أَبَاكَ مَا دَامَ حَيًّا وَلاَ تَعْصِهِ
“Tatatilah ayahmu selama dia hidup dan selama tidak diperinahkan untuk bermaksiat.” (HR. Ahmad. Dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth bahwa sanadnya hasan)
Maka tidak wajib menaati orang tua yang memerintahkan kepada kemaksiatan. Saran kami berusahalah untuk menyampaikan kepada orang tua tentang pemahaman agama yang benar dengan cara yang hikmah (bijak).

Semoga Bermanfaat….
Wallahu A’lam Bisshowab.

Referensi: https://bimbinganislam.com/primbon-jawa-ngitung-weton-sebelum-menikah/

Senin, 22 Juni 2020

KETIKA TUHAN CEMBURU DENGAN MEDSOS



Media sosial adalah media untuk memperpendek jarak (yang jauh menjadi dekat). Selain itu medsos juga sebagai sarana untuk memudahkan komunikasi dan mempererat silaturrahmi. Namun ketika media sosial dijadikan tempat untuk mengeluh, dengan membuat status tentang apa yang dirasa, apa yang dijalani bisa jadi malah membawa malapetaka.
Banyak status di medsos yang isinya hanyalah ungkapan kesedihan atau persoalan yang nggak penting, misalnya bertengkar dengan teman, pacar atau kekisruhan keluarga. Ini menjadikan si pemilik akun malah tidak menemukan solusi, karena teman di medsos hampir bisa dipastikan tidak saling mengenal secara personal.
Tak terbantahkan lagi, teman dalam medsos adalah peluang bagi kita untuk mengembangkan komunikasi, bagi sebagian orang medsos adalah peluang untuk mengembangkan usaha, sebagaian lagi untuk mencari hiburan, sebagiannya lagi hanya sekadar iseng mengisi waklu luang.
Tak salah memang berkeluh-kesah, tetapi jika kita salah alamat dalam berkeluh kesah itu malah akan menjadi masalah baru bagi kita.  Apapun itu, permasalahan yang kita punya haruslah tetap menjadi rahasia kita, kecuali, kita mempunyai orang yang bisa kita percaya untuk saling berbagi rasa.
Mencurahkan keluh kesah di medsos secara tidak langsung berarti kita telah mengumbar aib diri kita sendiri. Medsos adalah cara bersosialisasi secara virtual. Sebagaimana komunikasi virtual, tanpa ada tatap muka dan rasa hati akibat interaksi secara personal, tentunya kita sulit untuk memahami kualitas lawan berinteraksi kita.
Di dalam medsos kita berhadapan dengan pribadi-pribadi yang mempunyai latar belakang berbeda, baik suku, agama, ras, dan golongan. Tentunya menjadi riskan jika kita menulis status di medsos tentang persoalan kita, karena teman di medsos kita tidak akan mengerti konteks pesoalan yang kita punya.
Apakah kita membagi persoalan di medsos untuk mencari solusi? Sepertinya bukan, karena sebagaimana yang terjadi, kebanyakan mereka hanya mengumbar penderitaan untuk dikasihani orang lain. Ketahuilah, di medsos semua orang punya persoalan sendiri-sendiri untuk diselesaikan sendiri-sendiri.
Salah satu tanda tinggi tauhid seseorang adalah menyandarkan diri hanya kepada Allah SWT. Allah adalah tempat paling pertama sebagai tempat ia mengadu semua permasalahannya, curhat, dan bahkan menangis kepada Allah.
Sebaliknya, salah satu tanda kurangnya tauhid seseorang adalah ia lupa kepada Allah. Ketika ada masalah, ia langsung mengadu kepada makhluk, mengadu kepada keluarga dan sahabat. Bahkan sebagian lagi ada yang mengadu di medsos sehingga seluruh dunia tahu kita sedang dirundung musibah atau masalah.
Sebagai seorang hamba hendaknya memprioritaskan Allah dalam segala urusan, karena Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan dan memberikan segalanya. Ketika mendapatkan masalah dan musibah, hendaknya kita langsung mengadu kepada Allah pertama kali. Sebagaimana teladan dari para nabi dan orang shalih.
Nabi Ya’qub AS misalnya, ketika mendengar berita sangat menyedihkan, yaitu anak kesayangannya Nabi Yusuf diberitakan telah dimakan oleh srigala. Seketika itu beliau langsung mengadu kepada Allah dan berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf: 86)
Orang yang bersabar dan tidak menceritakan masalah/musibah pada orang lain akan mendapatkan keutamaan yang besar. Allah berfirman dalam Hadits Qudsi: “Jika Aku (Allah) memberikan cobaan (musibah) kepada hamba-Ku yang beriman sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya, maka Aku akan melepaskannya dari tahanan-Ku (penyakit) kemudian Aku gantikan dengan daging yang lebih baik dari dagingnya juga dengan darah yang lebih baik dari darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).” (HR. Al-Hakim)
Mungkin ada pertanyaan yang muncul, apakah benar-benar tidak boleh bagi seseorang untuk menceritakan musibahnya kepada orang lain secara mutlak? Jawabannya: boleh saja, asalkan ia menceritakan dalam keadaan tegar, memuji dan bersyukur kepada Allah serta dengan tujuan musyawarah dan untuk mencari solusi dari musibah yang sedang ia hadapi.
Penting diperhatikan juga bahwa orang yang ia ceritakan itu adalah orang yang benar-benar seratus persen bisa membantunya dalam masalah/musibah ini, bukan menceritakan musibah kepada semua orang.
Allah itu senang apabila ada hambanya yang membutuhkan dan meminta hanya kepada-Nya, ketika hambanya sedang dirundung masalah langsung memohon kepada-Nya. Namun, ketika hambanya sedang dirundung masalah lantas malah langsung berkeluh kesah dan menuliskan keluh kesahnya di status FB atau WA, maka saat itulah Allah cemburu kepada hamba-Nya.
Ada beberapa manfaat medsos yang harusnya bisa kita pakai untuk meningkatkan eksistensi kita dalam bersosial, misalnya untuk membagi karya kita, baik itu karya tulis maupun karya visual. Namun peluang ini ternyata banyak yang terabaikan karena tak jarang medsos hanya jadi sarana berkeluh kesah.
Stop mengumbar penderitaan dan keluh kesah via medsos. Jadikanlah medsos untuk memasarkan potensi kita. Berkaryalah dan berbagilah di medsos dan jangan menjadi naif hanya dengan memunculkan penderitaan dan berharap belas kasihan orang lain.

Semoga Bermanfaat….
Wallahu A’lam Bisshowab.

Minggu, 21 Juni 2020

ANTARA DUA KUBU



Sudah nyaris enam bulan dunia diterpa krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 merubah tatanan masyarakat dunia. Guna mencegah penularan wabah virus corona yang meluas, masyarakat diimbau bahkan dipaksa untuk tinggal di rumah. Sekolah, bekerja bahkan beribadah pun dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja.
Hampir semua negara mengimbau warganya untuk tidak beraktivitas di luar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Terkecuali, memang bagi mereka yang harus keluar dan kegiatannya tidak bisa dilakukan dari rumah.
Perubahan tersebut tentu juga berdampak luas di banyak sektor. Pasalnya berubahnya aktivitas masyarakat tersebut membuat dunia usaha sepi, seperti bidang pariwisata, transportasi online, penjuaan retail, dan masih banyak lagi. Berjalannya waktu, tinggal di rumah dinilai tidak bisa selamanya diterapkan untuk menjaga keseimbangan perekonomian.
Saat ini beberapa daerah di Indonesia sudah mulai mengadaptasi kebijakan new normal yang sekarang istilah tersebut diganti menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang diberlakukan oleh pemerintah pusat. Ketika pelonggaran mulai berlaku, kita tetap harus melaksanakan protokol kesehatan dengan menggunakan masker, jaga jarak ideal, rajin mencuci tangan dengan sabun, olahraga teratur, dan jaga asupan gizi.
Sekarang ini kita terbagi menjadi dua kubu, kubu yang percaya Covid itu ada dan kubu yang menganggap Covid itu hanya konspirasi. Saya sudah tidak mau membahas itu. Sudah terlalu banyak yang membahas.
Saya cuma mau bilang pada anda, ada dan tidak adanya Covid, benar atau salahnya teori konspirasi, tidak ada salahnya toh kita menjalani protokol kesehatan. Simpel banget, hanya tiga langkah:
1. Cuci tangan pakai sabun (handsanitaizer);
2. Pakai masker ketika ke luar rumah;
3. Jaga jarak ideal.
Semuanya wajib kita lakukan secara bersamaan. Lagi pula, ini yang memang seharusnya kita jalankan setiap hari kan? Ada atau tidak adanya Covid. Demi kesehatan diri kita sendiri. Karena, kalau bukan kita sendiri yang menyayangi tubuh kita, siapa lagi?

STAY SAFE
STAY HEALTHY
STAY HAPPY
AND BE KIND 

Semoga Bermanfaat....
Wallahu A’lam Bisshowab.



Sabtu, 20 Juni 2020

10 GELAR UNIK BAGI MAHASISWA



Suatu hari ada pesan teks yang masuk di WA saya. Rupanya pesan tersebut berasal dari reseller buku penerbit KMO Indonesia, kebetulan saya sudah berlangganan buku di penerbit tersebut. Nah, kebetulan pada waktu itu reseller tersebut menawarkan buku terbaru dari KMO Indonesia. Salah satu buku yang ditawarkan tersebut berjudul “IJA(B)SAH”, wah keren nih judulnya, batin saya. Walhasil saya orderlah buku itu, dan dalam waktu tiga hari buku tersebut telah mendarat di depan rumah.

Penulis buku berjudul “IJA(B)SAH” ini bernama Ilham Amily, beliau adalah sarjana lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tasikamalaya. Buku ini ditulis penulisnya dengan tulus untuk membantu teman-teman yang ingin bersegera menikah, berdasarkan apa yang dialami langsung oleh penulis. Nah, bagi kalian yang ingin bersegera menikah segera miliki buku ini! Hehe.

Buku IJA(B)SAH Karya Ilham Amily

Tentunya setelah membeli buku harus dibaca dong! Setelah saya membaca buku tersebut, sampai pada halaman dua belas saya menemukan istilah-istilah unik untuk dijadikan sebagai gelar mahasiswa. Di antara istilah-istilah unik tersebut yaitu: KURA-KURA, KUDA-KUDA, KUNANG-KUNANG, KUMAN-KUMAN, KUTU KUPRET, KUPU-KUPU, KUE-KUE, KUMUS-KUMUS, KUPER-KUPER, dan KUSYUT-KUSYUT.

Gelar ini didapatkan penulis dari kegiatan atau aktivitas sehari-hari selama menjadi mahasiswa. Ya... gelar itu adalah sebutan bagi setiap tipe mahasiswa di kampus. Mungkin bagi sebagian orang istilah ini sudah tidak aneh lagi. Lalu, apa sih kepanjangan dari semua gelar itu? Cekidot....

1. Mahasiswa KURA-KURA
Mahasiswa KURA-KURA adalah singkatan dari mahasiswa Kuliah Rapat-Kuliah Rapat. Nah, gelar ini biasanya didapatkan oleh orang-orang tertentu, iya, orang-orang yang kerjaannya rapat tiap harinya, habis kuliah langsung rapat, hari libur rapat, sela-sela jam kosong ya rapat. Ya, begitulah kiranya aktivitas mahasiswa yang mendapatkan gelar ini.

2. Mahasiswa KUDA-KUDA
Mahasiswa KUDA-KUDA merupakan singkatan dari Kuliah Dagang-Kuliah Dagang. Sebutan ini bisa disandang oleh mahasiswa yang hobi dagang. Mungkin kalian semua pernah melihat ada mahasiswa yang kerjaannya dagang, bahkan status medsosnya pun dipenuhi dengan promosi dagangannya.

3. Mahasiswa KUNANG-KUNANG
Mahasiswa KUNANG-KUNANG merupakan singkatan dari Kuliah Nangkring-Kuliah Nangkring. Iya, sebutan ini bisa disandang oleh mahasiswa yang kerjaannya nangkring terus. Tapi, ya, perlu kita ketahui bahwa mahasiswa tipe ini bukan sekadar nangkring. Mereka bisa nangkring lama tapi pulang membawa hasil. (Khusnudzon). Hehe.

4. Mahasiswa KUMAN-KUMAN
Mahasiswa KUMAN-KUMAN merupakan singkatan dari Kuliah Main-Kuliah Main. Iya, gelar ini bisa diraih oleh mahasiswa yang hobinya main. Libur sedikit main, jam kuliah kosong lama langsung pergi ke mall, ngopi sambil maen game, dan begitulah kerjaannya mahasiswa yang mendapatkan gelar ini.

5. Mahasiswa KUTU KUPRET
Mahasiswa KUTU KUPRET merupakan singkatan dari Kuliah Tugas-Kuliah Presentasi. Gelar ini bisa diraih oleh mahasiswa yang kerjaannya nugas dan presentasi, dan tentunya mahasiswa tipe ini orangnya rajin atau bahkan jenius (meskipun copy paste). ههههه (ketawa syar'i). 😄

6. Mahasiswa KUPU-KUPU
Mahasiswa KUPU-KUPU merupakan singkatan dari Kuliah Pulang-Kuliah Pulang. Mahasiswa KUPU-KUPU ini merupakan bagian dari gelar/tipe mahasiswa yang paling fenomenal di kampus. Tipe mahasiswa ini biasanya didapatkan oleh oleh mahasiswa yang hobinya mudik, atau kalau nunggu jam kosong dia memilih pulang ke kosannya. Jadi, jangan heran, biasanya mahasiswa tipe ini jarang dikenal oleh mahasiswa di luar teman sekelasnya.

7. Mahasiswa KUE-KUE
Mahasiswa KUE-KUE merupakan singkatan dari Kuliah Gawe-Kuliah Gawe. Tipe ini bisa ditetapkan oleh mahasiswa yang kuliah sambil kerja. Tentunya mahasiswa tipe ini sangat pekerja keras ya, masih kuliah bisa nyempetin diri buat bekerja. Salut deh buat mereka-mereka yang kuliah sambil bekerja. Tapi, kuliah harus tetap diprioritaskan ya!

8. Mahasiswa KUMUS-KUMUS
Mahasiswa kumus-kumus merupakan singkatan dari Kuliah Musik-Kuliah Musik. Setiap kampus tentunya ada mahasiswa tipe ini. Iya, mahasiswa tipe ini bisa diraih oleh mahasiswa yang hobinya bermain musik, baik itu bernyanyi atau bahkan memainkan alat musiknya.

9. Mahasiswa KUPER-KUPER
Mahasiswa KUPER-KUPER merupakan singkatan dari Kuliah Perawatan-Kuliah Perawatan. Hmmm... biasanya, mahasiswa tipe ini bisa didapatkan oleh kaum hawa atau para kaum sosisalita. Mahasiswa tipe ini selalu menyempatkan waktu untuk perawatan (dilut-dilut macak)😍😁, dan bahkan perawatan dijadikan sebagai kebutuhan utamanya dalam fashion-nya.

10. Mahasiswa KUSYUT-KUSYUT
Mahasiswa KUSYUT-KUSYUT merupakan singkatan dari Kuliah Syuting-Kuliah Syuting. Iya, tipe ini bisa diraih oleh mahasiswa yang hobi eksis di dunia maya. Syuting itu tidak melulu identik dengan film atau iklan. Sudah tidak jarang lagi kita melihat mahasiswa yang syuting untuk akun YouTube, Instagram, dan media lainnya di mana mereka menjadi selebritis di sana, atau setidaknya mencoba untuk menjadi salah satunya. Mereka akan terlihat mengabadikan aktivitas-aktivitas mereka di manapun.

Nah, itulah sepuluh gelar unik bagi mahasiswa. Kalian para mahasiswa termasuk tipe yang mana nih gaes? Atau dari kalian ada yang punya istilah lain? Silahkan di tulis di laman komentar!

Semoga Bermanfaat ....

Blitar, 20 Juni 2020

Jumat, 19 Juni 2020

NEW NORMAL ≠ SEPERTI BIASANYA, NEW NORMAL = KEBIASAAN BARU



Oleh: Ahmad Fikri Amrullah

Sudah tak terhitung berapa lama kita harus stay at home atau #dirumahaja karena situasi Covid 19 yang belum juga usai. Dari yang harus beradaptasi dengan kondisi tatanan hidup baru, hingga akhirnya kita mempunyai rutinitas yang berbeda dari sebelumnya.

Sebagian dari kita mungkin sudah ada yang bisa bersyukur dan menikmati keadaan berkumpul dengan sanak keluarga di rumah. Namun sebagian dari kita tentu masih ada yang menahan rindu dengan orang tua atau keluarga yang tinggal terpisah. Seolah dalam keadaan menunggu, sampai kapan pandemi ini akan berakhir dan kita kembali beraktivitas normal?

Beberapa pekan yang lalu Pemerintah RI secara resmi telah mengganti istilah tatanan hidup baru atau New Normal menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Istilah tersebut digunakan sebagai narasi pengganti New Normal, dikarenakan berdasarkan hasil kajian, kata "normal" apapun imbuhannya masih dipahami sebagai kembali ke situasi sebelum pandemi (Covid 19).

Adaptasi kebiasaan baru adalah cara kita merubah perilaku, gaya hidup, dan kebiasan. Keadaan dimana ketika PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mulai dilonggarkan, protokol kesehatan tetap harus dilakukan, sehingga kita tetap bisa produktif dengan tetap mencegah terjangkit virus corona.

Ketika pelonggaran mulai berlaku, kita tetap harus melaksanakan protokol kesehatan dengan menggunakan masker, jaga jarak ideal, rajin mencuci tangan dengan sabun, olahraga teratur, dan jaga asupan gizi. Selain itu, perhatikan juga situasi dan kondisi tempat bekerja, sejauh mana kegiatan daring (online) bisa didahulukan daripada luring (offline). Jika terpaksa harus tetap bekerja di kantor atau harus melakukan kegiatan di luar ruangan, ingat:

1. Saat kembali ke rumah, jangan bersentuhan dengan anggota keluarga sebelum membersihkan diri. 

2. Segera mencuci pakaian dan masker dengan deterjen, jangan biarkan tersimpan menggantung dalam waktu lama.

3. Bersihkan handphone, tas, benda lain dengan desinfektan. 

4. Tingkatkan daya tahan tubuh dengan asupan yang bergizi serta istirahat cukup.

5. Jaga kesehatan mental dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama keluarga. 

Adaptasi kebiasaan baru bisa berjalan secara efektif jika kita mau menaati dan konsisten dengan protokol kesehatan yang sudah diterapkan. Sebagaimana anjuran untuk taat kepada aturan pemerintah sudah tertuang dalam QS. An-Nisa’ ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا. (النساء: 59)
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah/penguasa di kalangan kalian, jika kalian berselisih dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikin lebih baik dan lebih bagus akibatnya." (An-Nisa’: 59)

Diharapkan, segala lapisan bisa memahami dan menjalankan tatanan hidup baru ini dengan sebaik-baiknya agar kita bisa tetap beraktivitas normal (dengan kebiasaan yang baru). Normal bukan berarti kembali seperti biasanya alias "sak karepe dewe" (semaunya sendiri).

Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin, dan semoga kita terhindar dari penyebaran virus corona. 

Semoga bermanfaat....
Wallahu A'lam Bisshowab.

Kamis, 18 Juni 2020

EMPAT MACAM GOLONGAN MANUSIA MENURUT SYAIKH ABDUL QODIR AL-JAILANI




Salah satu wasiat dari Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang dinukil oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani menyebutkan bahwa: “manusia itu terbagi dalam empat tingkatan/golongan”, di antaranya yaitu:

Pertama,
رَجُلٌ لاَ لِسَانَ لَهُ وَلاَ قَلْبَ وَهُوَ العَاصِى العَبِيّ
Golongan manusia yang tidak memiliki hati dan lisan, orang seperti ini termasuk golongan ahlunnar (ahli neraka).

Kedua,
رَجُلٌ لَهُ لِسَانٌ بِلاَ قَلْبٍ فَيَنْطِقُ بِالْحِكْمَةِ وَلَايَعْمَلُ بِهَا يَدْعُو النَّاسَ اِلَى اللهِ تَعَالىَ وَهُوَ يَفِرّ مِنْهُ
Golongan manusia yang memiliki lisan (banyak bicara) tetapi tidak memiliki hati. Mengajak kepada kebaikan, tetapi orang tersebut tidak mau mengerjakan, malah sering menjauhi perintah-perintah Allah SWT.

Ketiga,
رَجُلٌ لَهُ قَلْبٌ بِلا لِسَانٍ وَهُوَ مُؤْمِنٌ سَـتَرَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ خَـلْقِهِ وَبَصَرِهِ بِـعُيُوْبِ نَفْسِهِ وَنَوَّرَ قَلْبَهُ وعَرَّفَهُ غَوَائِلَ مُخَالَطَةِ النَّاسِ وَشُؤْمِ الكَلاَمِ وَهُوَ وَلِيُّ اللهِ تعالى مَحْفُوْظٌ فى سِتْرِ الله تعالى
Golongan manusia yang memiliki hati tapi tidak memiliki lisan (tidak banyak bicara). Golongan seperti ini termasuk orang-orang yang ditutupi atau dirahasiakan oleh Allah SWT dari khalayak umum. Allah sendiri yang menjaga penglihatannya sehingga tidak bisa melihat gebyarnya dunia yang fana. Golongan seperti ini termasuk golongan kekasih Allah SWT, hatinya dipenuhi dengan nur atau cahaya rububiyah, sehingga golongan tersebut mengerti dampaknya berkumpul bersama manusia yang banyak berbicara, yang tidak berfaedah.

Keempat,  
رَجُلٌ تَعَلَّمَ وَعَلَّمَ وَعَمِلَ بِعِلْمِهِ وَهُوَ الْعَالِمُ بِالله تعالى وَاَيــَاتِه اسْتَوْدَعَ اللهُ قَلْبَهُ غَرَائِبَ عِلْمِهِ وَشَرّحَ صَدْرَه لِقَبُوْلِ الْعُلُوْم
Golongan manusia yang mau belajar dan mengajar serta mengamalkan ilmunya. Orang-orang seperti ini adalah orang yang sudah mengerti kebesaran Allah SWT. Orang seperti ini menitipkan ilmunya kepada Allah SWT, sehingga Allah SWT bersedia melapangkan hati orang tersebut untuk senantiasa menerima titipan-titipan ilmu dari Allah SWT mengenai pengetahuan yang belum diketahui. Orang seperti ini termasuk orang yang ma’rifatullah.

Dari keterangan yang sudah disebutkan di atas hendaknya kita bermuhasabah atau intropeksi batin kita masing-masing, kita termasuk golongan yang mana? Jangan sampai kita tergolong orang-orang yang hina. Sebab memiliki prasangka buruk terhadap orang lain juga termasuk keburukan yang bisa menurunkan derajat kita.

Semoga Allah SWT bersedia menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain (manfa’at lil ummah). Aamiin.

Semoga bermanfaat….
Wallahu A’lam.