Senin, 22 Juni 2020

KETIKA TUHAN CEMBURU DENGAN MEDSOS



Media sosial adalah media untuk memperpendek jarak (yang jauh menjadi dekat). Selain itu medsos juga sebagai sarana untuk memudahkan komunikasi dan mempererat silaturrahmi. Namun ketika media sosial dijadikan tempat untuk mengeluh, dengan membuat status tentang apa yang dirasa, apa yang dijalani bisa jadi malah membawa malapetaka.
Banyak status di medsos yang isinya hanyalah ungkapan kesedihan atau persoalan yang nggak penting, misalnya bertengkar dengan teman, pacar atau kekisruhan keluarga. Ini menjadikan si pemilik akun malah tidak menemukan solusi, karena teman di medsos hampir bisa dipastikan tidak saling mengenal secara personal.
Tak terbantahkan lagi, teman dalam medsos adalah peluang bagi kita untuk mengembangkan komunikasi, bagi sebagian orang medsos adalah peluang untuk mengembangkan usaha, sebagaian lagi untuk mencari hiburan, sebagiannya lagi hanya sekadar iseng mengisi waklu luang.
Tak salah memang berkeluh-kesah, tetapi jika kita salah alamat dalam berkeluh kesah itu malah akan menjadi masalah baru bagi kita.  Apapun itu, permasalahan yang kita punya haruslah tetap menjadi rahasia kita, kecuali, kita mempunyai orang yang bisa kita percaya untuk saling berbagi rasa.
Mencurahkan keluh kesah di medsos secara tidak langsung berarti kita telah mengumbar aib diri kita sendiri. Medsos adalah cara bersosialisasi secara virtual. Sebagaimana komunikasi virtual, tanpa ada tatap muka dan rasa hati akibat interaksi secara personal, tentunya kita sulit untuk memahami kualitas lawan berinteraksi kita.
Di dalam medsos kita berhadapan dengan pribadi-pribadi yang mempunyai latar belakang berbeda, baik suku, agama, ras, dan golongan. Tentunya menjadi riskan jika kita menulis status di medsos tentang persoalan kita, karena teman di medsos kita tidak akan mengerti konteks pesoalan yang kita punya.
Apakah kita membagi persoalan di medsos untuk mencari solusi? Sepertinya bukan, karena sebagaimana yang terjadi, kebanyakan mereka hanya mengumbar penderitaan untuk dikasihani orang lain. Ketahuilah, di medsos semua orang punya persoalan sendiri-sendiri untuk diselesaikan sendiri-sendiri.
Salah satu tanda tinggi tauhid seseorang adalah menyandarkan diri hanya kepada Allah SWT. Allah adalah tempat paling pertama sebagai tempat ia mengadu semua permasalahannya, curhat, dan bahkan menangis kepada Allah.
Sebaliknya, salah satu tanda kurangnya tauhid seseorang adalah ia lupa kepada Allah. Ketika ada masalah, ia langsung mengadu kepada makhluk, mengadu kepada keluarga dan sahabat. Bahkan sebagian lagi ada yang mengadu di medsos sehingga seluruh dunia tahu kita sedang dirundung musibah atau masalah.
Sebagai seorang hamba hendaknya memprioritaskan Allah dalam segala urusan, karena Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan dan memberikan segalanya. Ketika mendapatkan masalah dan musibah, hendaknya kita langsung mengadu kepada Allah pertama kali. Sebagaimana teladan dari para nabi dan orang shalih.
Nabi Ya’qub AS misalnya, ketika mendengar berita sangat menyedihkan, yaitu anak kesayangannya Nabi Yusuf diberitakan telah dimakan oleh srigala. Seketika itu beliau langsung mengadu kepada Allah dan berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf: 86)
Orang yang bersabar dan tidak menceritakan masalah/musibah pada orang lain akan mendapatkan keutamaan yang besar. Allah berfirman dalam Hadits Qudsi: “Jika Aku (Allah) memberikan cobaan (musibah) kepada hamba-Ku yang beriman sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya, maka Aku akan melepaskannya dari tahanan-Ku (penyakit) kemudian Aku gantikan dengan daging yang lebih baik dari dagingnya juga dengan darah yang lebih baik dari darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).” (HR. Al-Hakim)
Mungkin ada pertanyaan yang muncul, apakah benar-benar tidak boleh bagi seseorang untuk menceritakan musibahnya kepada orang lain secara mutlak? Jawabannya: boleh saja, asalkan ia menceritakan dalam keadaan tegar, memuji dan bersyukur kepada Allah serta dengan tujuan musyawarah dan untuk mencari solusi dari musibah yang sedang ia hadapi.
Penting diperhatikan juga bahwa orang yang ia ceritakan itu adalah orang yang benar-benar seratus persen bisa membantunya dalam masalah/musibah ini, bukan menceritakan musibah kepada semua orang.
Allah itu senang apabila ada hambanya yang membutuhkan dan meminta hanya kepada-Nya, ketika hambanya sedang dirundung masalah langsung memohon kepada-Nya. Namun, ketika hambanya sedang dirundung masalah lantas malah langsung berkeluh kesah dan menuliskan keluh kesahnya di status FB atau WA, maka saat itulah Allah cemburu kepada hamba-Nya.
Ada beberapa manfaat medsos yang harusnya bisa kita pakai untuk meningkatkan eksistensi kita dalam bersosial, misalnya untuk membagi karya kita, baik itu karya tulis maupun karya visual. Namun peluang ini ternyata banyak yang terabaikan karena tak jarang medsos hanya jadi sarana berkeluh kesah.
Stop mengumbar penderitaan dan keluh kesah via medsos. Jadikanlah medsos untuk memasarkan potensi kita. Berkaryalah dan berbagilah di medsos dan jangan menjadi naif hanya dengan memunculkan penderitaan dan berharap belas kasihan orang lain.

Semoga Bermanfaat….
Wallahu A’lam Bisshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar