Media sosial adalah media untuk memperpendek
jarak (yang jauh menjadi dekat). Selain itu medsos juga
sebagai sarana untuk memudahkan
komunikasi dan mempererat silaturrahmi. Namun ketika media sosial dijadikan
tempat untuk mengeluh, dengan membuat status tentang apa yang dirasa, apa yang
dijalani bisa jadi malah membawa malapetaka.
Banyak status di medsos yang isinya hanyalah ungkapan
kesedihan atau persoalan yang nggak penting, misalnya bertengkar dengan teman,
pacar atau kekisruhan keluarga. Ini menjadikan si pemilik akun malah tidak
menemukan solusi, karena teman di medsos hampir bisa dipastikan tidak saling
mengenal secara personal.
Tak terbantahkan lagi, teman dalam medsos adalah
peluang bagi kita untuk mengembangkan komunikasi, bagi sebagian orang medsos
adalah peluang untuk mengembangkan usaha, sebagaian lagi untuk mencari hiburan,
sebagiannya lagi hanya sekadar iseng mengisi waklu luang.
Tak salah memang berkeluh-kesah, tetapi jika kita
salah alamat dalam berkeluh kesah itu malah akan menjadi masalah
baru bagi kita. Apapun itu, permasalahan
yang kita punya haruslah tetap menjadi rahasia kita, kecuali, kita mempunyai
orang yang bisa kita percaya untuk saling berbagi rasa.
Mencurahkan keluh kesah di medsos secara tidak
langsung berarti kita telah mengumbar aib diri kita sendiri. Medsos adalah cara
bersosialisasi secara virtual. Sebagaimana komunikasi virtual, tanpa ada tatap
muka dan rasa hati akibat interaksi secara personal, tentunya kita sulit untuk
memahami kualitas lawan berinteraksi kita.
Di dalam medsos kita berhadapan
dengan pribadi-pribadi yang mempunyai latar belakang berbeda, baik suku, agama,
ras, dan golongan. Tentunya menjadi riskan jika kita menulis status di medsos
tentang persoalan kita, karena teman di medsos kita tidak
akan mengerti konteks pesoalan yang kita punya.
Apakah kita membagi persoalan di medsos untuk
mencari solusi? Sepertinya bukan, karena sebagaimana yang terjadi, kebanyakan
mereka hanya mengumbar penderitaan untuk dikasihani orang lain. Ketahuilah, di
medsos semua orang punya persoalan sendiri-sendiri untuk diselesaikan
sendiri-sendiri.
Salah satu tanda tinggi tauhid seseorang adalah
menyandarkan diri hanya kepada Allah SWT. Allah adalah tempat paling pertama sebagai
tempat ia mengadu semua permasalahannya, curhat, dan bahkan menangis kepada
Allah.
Sebaliknya, salah satu tanda kurangnya tauhid
seseorang adalah ia lupa kepada Allah. Ketika ada masalah, ia langsung mengadu
kepada makhluk, mengadu kepada keluarga dan sahabat. Bahkan sebagian lagi ada
yang mengadu di medsos sehingga seluruh dunia tahu kita sedang dirundung
musibah atau masalah.
Sebagai seorang hamba hendaknya
memprioritaskan Allah dalam segala urusan, karena Allah adalah Tuhan yang telah
menciptakan dan memberikan segalanya. Ketika mendapatkan masalah dan musibah,
hendaknya kita langsung mengadu kepada Allah pertama kali. Sebagaimana teladan
dari para nabi dan orang shalih.
Nabi Ya’qub AS misalnya, ketika mendengar berita
sangat menyedihkan, yaitu anak kesayangannya Nabi Yusuf diberitakan telah
dimakan oleh srigala. Seketika itu beliau langsung mengadu kepada Allah dan
berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan
kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”
(Yusuf: 86)
Orang yang bersabar dan tidak menceritakan masalah/musibah
pada orang lain akan mendapatkan keutamaan yang besar. Allah berfirman dalam Hadits
Qudsi: “Jika Aku (Allah) memberikan cobaan (musibah) kepada hamba-Ku yang
beriman sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya, maka Aku
akan melepaskannya dari tahanan-Ku (penyakit) kemudian Aku gantikan dengan
daging yang lebih baik dari dagingnya juga dengan darah yang lebih baik dari
darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).” (HR. Al-Hakim)
Mungkin ada pertanyaan yang muncul, apakah
benar-benar tidak boleh bagi seseorang untuk menceritakan musibahnya kepada
orang lain secara mutlak? Jawabannya: boleh saja, asalkan ia menceritakan dalam
keadaan tegar, memuji dan bersyukur kepada Allah serta dengan tujuan musyawarah
dan untuk mencari solusi dari musibah yang sedang ia hadapi.
Penting diperhatikan juga bahwa orang yang ia
ceritakan itu adalah orang yang benar-benar seratus persen bisa membantunya
dalam masalah/musibah ini, bukan menceritakan musibah kepada semua orang.
Allah itu senang apabila ada hambanya yang
membutuhkan dan meminta hanya kepada-Nya, ketika hambanya sedang dirundung
masalah langsung memohon kepada-Nya. Namun, ketika hambanya sedang dirundung masalah lantas
malah langsung berkeluh kesah dan
menuliskan keluh kesahnya di status FB atau WA, maka saat itulah Allah cemburu kepada hamba-Nya.
Ada beberapa manfaat
medsos yang harusnya bisa kita pakai untuk meningkatkan eksistensi kita dalam
bersosial, misalnya untuk membagi karya kita, baik itu karya tulis maupun
karya visual. Namun
peluang ini ternyata banyak yang terabaikan karena tak jarang medsos hanya jadi
sarana berkeluh kesah.
Stop mengumbar penderitaan dan keluh kesah via
medsos. Jadikanlah medsos untuk memasarkan potensi kita. Berkaryalah dan
berbagilah di medsos dan jangan menjadi naif hanya dengan memunculkan
penderitaan dan berharap belas kasihan orang lain.
Semoga
Bermanfaat….
Wallahu
A’lam Bisshowab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar