Oleh: Ahmad
Fikri Amrullah
Sudah
tak terhitung berapa lama kita harus stay at home atau #dirumahaja karena
situasi Covid 19 yang belum juga usai. Dari yang harus beradaptasi dengan
kondisi tatanan hidup baru, hingga akhirnya kita mempunyai rutinitas yang
berbeda dari sebelumnya.
Sebagian
dari kita mungkin sudah ada yang bisa bersyukur dan menikmati keadaan berkumpul
dengan sanak keluarga di rumah. Namun sebagian dari kita tentu masih ada yang
menahan rindu dengan orang tua atau keluarga yang tinggal terpisah. Seolah
dalam keadaan menunggu, sampai kapan pandemi ini akan berakhir dan kita kembali
beraktivitas normal?
Beberapa
pekan yang lalu Pemerintah RI secara resmi telah mengganti istilah tatanan
hidup baru atau New Normal menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Istilah
tersebut digunakan sebagai narasi pengganti New Normal, dikarenakan berdasarkan
hasil kajian, kata "normal" apapun imbuhannya masih dipahami sebagai
kembali ke situasi sebelum pandemi (Covid 19).
Adaptasi
kebiasaan baru adalah cara kita merubah perilaku, gaya hidup, dan kebiasan.
Keadaan dimana ketika PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mulai
dilonggarkan, protokol kesehatan tetap harus dilakukan, sehingga kita tetap
bisa produktif dengan tetap mencegah terjangkit virus corona.
Ketika
pelonggaran mulai berlaku, kita tetap harus melaksanakan protokol kesehatan
dengan menggunakan masker, jaga jarak ideal, rajin mencuci tangan dengan sabun,
olahraga teratur, dan jaga asupan gizi. Selain itu, perhatikan juga situasi dan
kondisi tempat bekerja, sejauh mana kegiatan daring (online) bisa didahulukan
daripada luring (offline). Jika terpaksa harus tetap bekerja di kantor atau
harus melakukan kegiatan di luar ruangan, ingat:
1.
Saat kembali ke rumah, jangan bersentuhan dengan anggota keluarga sebelum
membersihkan diri.
2.
Segera mencuci pakaian dan masker dengan deterjen, jangan biarkan tersimpan
menggantung dalam waktu lama.
3.
Bersihkan handphone, tas, benda lain dengan desinfektan.
4.
Tingkatkan daya tahan tubuh dengan asupan yang bergizi serta istirahat cukup.
5.
Jaga kesehatan mental dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama
keluarga.
Adaptasi
kebiasaan baru bisa berjalan secara efektif jika kita mau menaati dan konsisten
dengan protokol kesehatan yang sudah diterapkan. Sebagaimana anjuran untuk taat
kepada aturan pemerintah sudah tertuang dalam QS. An-Nisa’ ayat 59:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ
مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ
وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا. (النساء: 59)
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul-Nya dan pemerintah/penguasa di kalangan kalian, jika kalian
berselisih dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya,
jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikin lebih baik dan lebih
bagus akibatnya." (An-Nisa’: 59)
Diharapkan,
segala lapisan bisa memahami dan menjalankan tatanan hidup baru ini dengan
sebaik-baiknya agar kita bisa tetap beraktivitas normal (dengan kebiasaan yang
baru). Normal bukan berarti kembali seperti biasanya alias "sak karepe
dewe" (semaunya sendiri).
Semoga
kita senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin, dan semoga kita
terhindar dari penyebaran virus corona.
Semoga
bermanfaat....
Wallahu
A'lam Bisshowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar