Jumat, 19 Juni 2020

NEW NORMAL ≠ SEPERTI BIASANYA, NEW NORMAL = KEBIASAAN BARU



Oleh: Ahmad Fikri Amrullah

Sudah tak terhitung berapa lama kita harus stay at home atau #dirumahaja karena situasi Covid 19 yang belum juga usai. Dari yang harus beradaptasi dengan kondisi tatanan hidup baru, hingga akhirnya kita mempunyai rutinitas yang berbeda dari sebelumnya.

Sebagian dari kita mungkin sudah ada yang bisa bersyukur dan menikmati keadaan berkumpul dengan sanak keluarga di rumah. Namun sebagian dari kita tentu masih ada yang menahan rindu dengan orang tua atau keluarga yang tinggal terpisah. Seolah dalam keadaan menunggu, sampai kapan pandemi ini akan berakhir dan kita kembali beraktivitas normal?

Beberapa pekan yang lalu Pemerintah RI secara resmi telah mengganti istilah tatanan hidup baru atau New Normal menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Istilah tersebut digunakan sebagai narasi pengganti New Normal, dikarenakan berdasarkan hasil kajian, kata "normal" apapun imbuhannya masih dipahami sebagai kembali ke situasi sebelum pandemi (Covid 19).

Adaptasi kebiasaan baru adalah cara kita merubah perilaku, gaya hidup, dan kebiasan. Keadaan dimana ketika PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mulai dilonggarkan, protokol kesehatan tetap harus dilakukan, sehingga kita tetap bisa produktif dengan tetap mencegah terjangkit virus corona.

Ketika pelonggaran mulai berlaku, kita tetap harus melaksanakan protokol kesehatan dengan menggunakan masker, jaga jarak ideal, rajin mencuci tangan dengan sabun, olahraga teratur, dan jaga asupan gizi. Selain itu, perhatikan juga situasi dan kondisi tempat bekerja, sejauh mana kegiatan daring (online) bisa didahulukan daripada luring (offline). Jika terpaksa harus tetap bekerja di kantor atau harus melakukan kegiatan di luar ruangan, ingat:

1. Saat kembali ke rumah, jangan bersentuhan dengan anggota keluarga sebelum membersihkan diri. 

2. Segera mencuci pakaian dan masker dengan deterjen, jangan biarkan tersimpan menggantung dalam waktu lama.

3. Bersihkan handphone, tas, benda lain dengan desinfektan. 

4. Tingkatkan daya tahan tubuh dengan asupan yang bergizi serta istirahat cukup.

5. Jaga kesehatan mental dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama keluarga. 

Adaptasi kebiasaan baru bisa berjalan secara efektif jika kita mau menaati dan konsisten dengan protokol kesehatan yang sudah diterapkan. Sebagaimana anjuran untuk taat kepada aturan pemerintah sudah tertuang dalam QS. An-Nisa’ ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا. (النساء: 59)
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah/penguasa di kalangan kalian, jika kalian berselisih dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikin lebih baik dan lebih bagus akibatnya." (An-Nisa’: 59)

Diharapkan, segala lapisan bisa memahami dan menjalankan tatanan hidup baru ini dengan sebaik-baiknya agar kita bisa tetap beraktivitas normal (dengan kebiasaan yang baru). Normal bukan berarti kembali seperti biasanya alias "sak karepe dewe" (semaunya sendiri).

Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin, dan semoga kita terhindar dari penyebaran virus corona. 

Semoga bermanfaat....
Wallahu A'lam Bisshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar