Jatuh cinta merupakan hal yang
paling sering membuat kita kebingungan, salah tingkah, berbunga-bunga namun
kadang juga menguras air mata. Rasa cinta yang kita miliki untuk seseorang yang
istimewa di hidup kita memang tak bisa disalahkan, meski kadang menyakitkan.
Seperti menyimpan rasa cinta
diam-diam yang terkadang kita alami, di mana
kita tidak bisa memilih untuk mencintainya namun hati kita bersikeras bahwa
dialah orang yang sanggup membuat jantung kita berdegup kencang. Tak jarang,
cinta dalam diam berakhir rasa kecewa karena ternyata si dia sudah ada yang
punya.
Tidak semua orang mampu atau mau
mengungkapkan rasa cintanya, dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Lantas bagaimana terkait dengan masalah perasaan cinta yang terpendam ini kalau dilihat dari perspektif fikih?
Mari kita perhatikan ibaroh di bawah ini:
(ص 180) 8853 - (من عشق فكتم وعف ومات مات شهيدا) قال ابن عربي :
العشق التقاء الحب بالمحب حتى خالط جميع أجزائه واشتمل عليه اشتمال الصماء.
“Barangsiapa
yang jatuh cinta lantas dia menahannya hingga ia mati, maka dia mati syahid”. [Faidh al-Qadiir VI/233].
(من عشق) من يتصور حل نكاحها لها شرعا لا كامرد (فعف ثم مات مات
شهيدا) أي يكون من شهداء الاخرة لان العشق وان كان مبدؤه النظر لكنه غيرموجب له
فهو فعل الله بالعبد بلا سبب (خط عن عائشةمن عشق فكتم) عشقه عن الناس (وعف فمات
فهو شهيد) والعشق التفاف الحب بالمحب حتى يخالط جميع أجزائه (خط عن ابن عباس)
واسناده كالذي قبله ضعيف.
“Barangsiapa yang jatuh cinta (pada wanita yang
semestinya halal untuk ia nikahi secara syara’ tidak jatuh cinta pada semacam
amraad (pemuda tampan tanpa kumis) lantas dia menahannya hingga ia mati, maka dia mati syahid”. Artinya dirinya tergolong syahid di akhirat karena
jatuh cinta meskipun berseminya diawali dari pandangan tapi termasuk hal yang
tiada dapat ia hindari, jatuh cinta adalah karya Allah pada hambanya tanpa
suatu sebab. “Barangsiapa yang jatuh cinta lantas dia menyimpannya (dari
terlihat orang-orang) hingga ia mati, maka dia mati syahid.” Jatuh cinta adalah
berseminya rasa pada kekasih hingga bercampur di seluruh anggota tubuhnya. Sanad
hadits ini dan hadits sebelumnya adalah dho’if. [At-Taysiir Bi Syarh
al-Jamii’ as-Shoghir II/833].
SYARAT JATUH CINTA TERGOLONG SYAHID
Disyaratkan kematian yang dapat membawa seseorang
tergolong syahid akhirat yaitu:
• Iffah, ialah tidak sampai menjerumuskannya pada
perbuatan maksiat meskipun sekadar melihat yang diharamkan.
• Kitmaan, ialah tidak
diekspresikan dengan bentuk ungkapan namun ia pendam dalam hati, meskipun
mengungkap perasaan kala seseorang jatuh cinta hukumnya sunnah.
• Yang ia cintai halal untuk dinikahi secara
syara’.
نعم
الميت عشقا شرطه العفة والكتمان لخبر من عشق وعف وكتم فمات مات شهيدا وإن كان
الأصح وقفه على ابن عباس قال شيخنا ويجب أن يراد به من يتصور إباحة نكاحها له شرعا
ويتعذر الوصول إليها كزوجة الملك وإلا فعشق المرد معصية فكيف تحصل بها درجة
الشهادة اه .[Mughni al-Muhtaaj I/350] .
(قَوْلُهُ وَالْمَيِّتُ عِشْقًا) أَيْ بِشَرْطِ الْعِفَّةِ عَنْ
الْمُحَرَّمَاتِ بِحَيْثُ لَوْ اخْتَلَى بِمَحْبُوبِهِ لَمْ يَقَعْ بَيْنَهُمَا
فَاحِشَةٌ وَبِشَرْطِ الْكِتْمَانِ حَتَّى عَنْ مَحْبُوبِهِ وَإِنْ كَانَ يُسَنُّ
إعْلَامُهُ بِأَنَّهُ يُحِبُّهُ وَمَعَ ذَلِكَ لَوْ أَعْلَمَهُ فَاتَتْهُ رُتْبَةُ
الشَّهَادَةِ ا هـ ...وَعِبَارَةُ الشَّوْبَرِيِّ قَوْلُهُ وَالْمَيِّتُ عِشْقًا
أَفْتَى الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ عِشْقِ
مَنْ يُتَصَوَّرُ نِكَاحُهُ شَرْعًا أَوْ لَا كَالْأَمْرَدِ حَيْثُ عَفَّ وَكَتَمَ
إذْ الْمَحَبَّةُ لَا قُدْرَةَ عَلَى دَفْعِهَا وَقَدْ يَكُونُ الصَّبْرُ عَلَى
الثَّانِي أَشَدَّ إذْ لَا وَسِيلَةَ لَهُ لِقَضَاءِ وَطَرِهِ بِخِلَافِ
الْأَوَّلِ .[Hasyiyah al-Jamaal VII/155] .
Semoga bermanfaat....
Wallahu A’lam
Bisshowab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar