Sabtu, 04 Juli 2020

BAHAGIA ITU DICIPTAKAN, BUKAN DICARI


 
"Bahagia itu diciptakan, bukan dicari." Begitulah kira-kira seorang motivator berkata.
Kalau menurut saya sih sepakat banget. Karena tantangan hidup yang kita hadapi, seharusnya tidak ada sangkut pautnya dengan indeks kebahagiaan kita sebagai manusia. Bahagia menjadikan hidup kita lebih mudah untuk dihadapi.
Dalam sebuah buku tentang motivasi yang berjudul "Ikuti Saja Mau-Nya" karya Tendi Murti, di dalamnya disebutkan bahwa; Menurut The New Economics Foundation (NEF) peringkat indeks kebahagiaan Indonesia berada di perpingkat 23. Sementara negara-negara maju yang katanya super power malah jauh berada di bawah Indonesia. Misalnya, Amerika berada di peringkat 150, Inggris peringkat 108, Jerman peringkat 81, Jepang peringkat 95.
Dalam hal ini, peringkat pertama dalam hal kebahagiaan penduduknya justru berada pada sebuah negara yang hanya berpenduduk 209.000 jiwa, yakni negara Vanuatu yang berada di Pasifik Selatan.
Padahal negara ini adalah negara yang masih berkembang. Makanpun seadanya. Namun, justru indeks kebahagiannya tertinggi. Mengapa bisa begitu?
Salah satu indikatornya adalah karena hidup yang serba terbatas, rasa kemanusiaan penduduknya menjadi lebih tinggi. Mereka saling membantu dan saling membicarakan kebaikan. Obrolannya seputar keluarga dan tidak berbicara konsumtif. Ternyata tidak menjamin sebuah negara maju indeks kebahagiaan mereka pun ikut maju. Ini poin pentingnya.
Kalau ditarik ke tantangan hidup kita, maka sebenarnya bahagia itu sederhana. Mau coba?
Coba saja setiap hari Jum'at pagi kalian buat nasi bungkus, lalu bagikan ke orang-orang di jalanan. Ke tukang sapu, tukang becak, dan profesi menengah bawah lainnya, maka indeks kebahagian kalian otomatis meningkat. Sistem hormon di dalam tubuh kita akan mengeluarkan hormon bahagia. Efeknya ada rasa senang dan menyenangkan.
Atau ketika kalian menasihati seseorang dengan hikmah,  lalu orang tersebut menerima, maka indeks kebahagiaan pun bertambah. Atau ketika kalian dikasih masukan dari orang lain dan masukan tersebut memang benar lalu kalian terima dengan legowo, maka indeks kebahagiaan pun akan bertambah.
Jadi, bahagia itu kaitannya dengan hati bukan dengan teknologi. Yah, yang namanya hidup, kalau sekarang kalau tidak kita jadikan sebagai sebuah kebahagiaan, kapan lagi bahagianya?
Misalnya, ada yang bilang seperti ini:
- Saya akan bahagia kalau masa-masa jomblo ini berakhir dengan pernikahan (jadi, selama hidup belum menikah nggak bahagia?).
- Saya akan bahagia kalau sudah punya rumah sendiri (jadi, kalau sekarang masih ngontrak nggak bahagia?).
- Saya akan bahagia kalau hutang-hutang saya lunas (kalau misalkan utangnya 15 tahun lagi cicilannya lunas, berarti nunggu 15 tahun baru akan bahagia?).
Halo gaes, bahagia itu ada dalam hati kita. Pusatkan bahwa hari ini nggak boleh ada siapapun yang merebut kebahagiaan kita. Tantangan hidup yang kita hadapi sejatinya itu adalah bentuk rasa yang harus kita syukuri untuk memperkuat mental kita. Sepakat ya!

Semoga bermanfaat....
Wallau A'lam Bisshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar