"Bahagia itu diciptakan, bukan dicari."
Begitulah kira-kira seorang motivator berkata.
Kalau menurut saya sih sepakat
banget. Karena tantangan hidup yang kita hadapi, seharusnya tidak ada sangkut
pautnya dengan indeks kebahagiaan kita sebagai manusia. Bahagia menjadikan
hidup kita lebih mudah untuk dihadapi.
Dalam sebuah buku tentang motivasi
yang berjudul "Ikuti Saja Mau-Nya" karya Tendi Murti, di dalamnya
disebutkan bahwa; Menurut The New Economics Foundation (NEF) peringkat indeks
kebahagiaan Indonesia berada di perpingkat 23. Sementara negara-negara maju
yang katanya super power malah jauh berada di bawah Indonesia. Misalnya,
Amerika berada di peringkat 150, Inggris peringkat 108, Jerman peringkat 81,
Jepang peringkat 95.
Dalam hal ini, peringkat pertama
dalam hal kebahagiaan penduduknya justru berada pada sebuah negara yang hanya
berpenduduk 209.000 jiwa, yakni negara Vanuatu yang berada di Pasifik Selatan.
Padahal negara ini adalah negara
yang masih berkembang. Makanpun seadanya. Namun, justru indeks kebahagiannya
tertinggi. Mengapa bisa begitu?
Salah satu indikatornya adalah
karena hidup yang serba terbatas, rasa kemanusiaan penduduknya menjadi lebih
tinggi. Mereka saling membantu dan saling membicarakan kebaikan. Obrolannya
seputar keluarga dan tidak berbicara konsumtif. Ternyata tidak menjamin sebuah
negara maju indeks kebahagiaan mereka pun ikut maju. Ini poin pentingnya.
Kalau ditarik ke tantangan hidup
kita, maka sebenarnya bahagia itu sederhana. Mau coba?
Coba saja setiap hari Jum'at
pagi kalian buat nasi bungkus, lalu bagikan ke orang-orang di jalanan. Ke
tukang sapu, tukang becak, dan profesi menengah bawah lainnya, maka indeks
kebahagian kalian otomatis meningkat. Sistem hormon di dalam tubuh kita akan
mengeluarkan hormon bahagia. Efeknya ada rasa senang dan menyenangkan.
Atau ketika kalian menasihati
seseorang dengan hikmah, lalu orang
tersebut menerima, maka indeks kebahagiaan pun bertambah. Atau ketika kalian
dikasih masukan dari orang lain dan masukan tersebut memang benar lalu kalian
terima dengan legowo, maka indeks kebahagiaan pun akan bertambah.
Jadi, bahagia itu kaitannya
dengan hati bukan dengan teknologi. Yah, yang namanya hidup, kalau sekarang
kalau tidak kita jadikan sebagai sebuah kebahagiaan, kapan lagi bahagianya?
Misalnya, ada yang bilang seperti ini:
- Saya akan bahagia kalau masa-masa jomblo ini berakhir
dengan pernikahan (jadi, selama hidup belum menikah nggak bahagia?).
- Saya akan bahagia kalau sudah punya rumah
sendiri (jadi, kalau sekarang masih ngontrak nggak bahagia?).
- Saya akan bahagia kalau hutang-hutang saya
lunas (kalau misalkan utangnya 15 tahun lagi cicilannya lunas, berarti nunggu
15 tahun baru akan bahagia?).
Halo gaes, bahagia itu ada dalam
hati kita. Pusatkan bahwa hari ini nggak boleh ada siapapun yang merebut
kebahagiaan kita. Tantangan hidup yang kita hadapi sejatinya itu adalah bentuk
rasa yang harus kita syukuri untuk memperkuat mental kita. Sepakat ya!
Semoga bermanfaat....
Wallau A'lam Bisshowab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar