Rabu, 29 Juli 2020

KOMENTAR MENGGELITIK SEPUTAR PUASA TARWIYAH DAN ARAFAH

Kemarin ada seorang santriwati yang ngechat saya melalui Messenger. Dia bercerita kepada saya bahwa dia telah membuat story di akun medsosnya tentang niat puasa Tarwiyah dan Arafah. Lantas story tersebut dikomentari oleh tetangganya, "Wong Indonesia opo enek sing munggah kaji, arep mosoni sopo?", begitulah komentarnya. Santriwati tersebut kemudian bertanya kepada saya, "bagaimana saya harus menanggapi komentar tetangga saya itu Gus?"

Mungkin di sini saya perlu memaparkan dulu mengenai definisi puasa Tarwiyah dan Arafah beserta fadhilahnya. 

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 Dzulhijah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa-puasa lainnya.

Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah. Rasulullah SAW bersabda :

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas. (HR. Muslim)

Sementara puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan hadits ini dloif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dhoif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam rangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan, Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari)

Puasa Arafah dan tarwiyah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji sedang menjalankan ibadah di tanah suci.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun. (HR Bukhari Muslim). 

Jadi buat mbak santri yang menanyakan bagaimana seharusnya menanggapi komentar tetangganya tadi. Di sini saya ada dua pilihan jawaban. Yakni jawaban yang bijak dan jawaban gerakan cangkem elek (seperti yang sering diutarakan oleh Gus Baha'). Hehehe

Jawaban yang bijak: 
Tadi di atas sudah dapaparkan bahwa telah disebutkan dalam hadist Qudsi: "Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya." Jadi intinya, kita mengamalkan puasa sunnah ini (Tarwiyah & Arafah) dalam rangka fadlailul a’mal (untuk memperoleh keutamaan). Tidak ada kerugian bagi orang yang mengamalkan kebaikan, kita menganut Sunnah Nabi SAW dan semata-mata karena Allah SWT. 

Jawaban gerakan cangkem elek:
"Iki aku poso tak niati gawe masani sampean mbak, ben sampean mundak waras." 😄

Wallaahu A'lam Bisshowaab




Tidak ada komentar:

Posting Komentar