Jumat, 31 Juli 2020

HUKUM MELAKSANAKAN SHOLAT JUM'AT JIKA PAGINYA SHOLAT IED (ADHA)

Hari ini ada seorang tetangga yang bertanya kepada saya, "Mas, kalau dalam satu hari itu sudah ada 2 Khutbah (Idul Adha dan Shalat Jum'at) apakah boleh kita tidak melaksanakan shalat Juma't, dan cukup diganti dengan Shalat Dhuhur?"

Memang Ibadah Shalat Jum'at pada hari ini, 31 Juli 2020 bertepatan dengan pelaksanaan Shalat Idul Adha 10 Dzujlhijjah 1441 H.

Sebagaimana Shalat Idul Adha, Shalat Jum'at dikenal juga sebagai lebaran, dan ketika keduanya jatuh pada hari yang sama maka dikenal sebagai dua lebaran ('idain) dalam satu hari.

Tentunya wajar kalau muncul pertanyaan semacam ini, tentang bagaimana hukum melaksanakan Shalat Jum'at di siang hari apabila pada pagi harinya kita telah melaksanakan Shalat Idul Adha.

Kedua ibadah ini sama-sama dilaksanakan sebanyak 2 raka'at, namun hukum pelaksanaan keduanya berbeda.

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat Jum'at yang jatuh bertepatan dengan hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.

Ada mazhab yang mengharuskan untuk melakukan salat Jum'at ada juga yang tidak mengharuskan salat Jum'at.

Seperti dalam kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al A`immah karya Imam Ad Dimasyqi, disebutkan bahwa: “Apabila hari raya bertepatan dengan hari Jum'at, maka menurut pendapat Imam Asy Syafi’i yang shahih, bahwa shalat Jum'at tidak gugur dari penduduk kampung yang mengerjakan shalat Jum'at. Adapun bagi orang yang datang dari kampung lain, maka gugur shalat Jum'atnya. Demikian menurut pendapat Imam Syafi’i yang shahih. Maka jika mereka telah shalat hari raya, boleh bagi mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jum'at. Menurut pendapat Imam Hanafi, bagi penduduk kampung wajib shalat Jum'at. Menurut Imam Ahmad, tidak wajib shalat Jum'at baik bagi orang yang datang maupun orang yang ditempati shalat Jum'at. Kewajiban shalat Jum'at gugur sebab mengerjakan shalat hari raya. Tetapi mereka wajib shalat dhuhur. Menurut ‘Atha`, dhuhur dan Jum'at gugur bersama-sama pada hari itu. Maka tidak ada shalat sesudah shalat hari raya selain shalat Ashar.”

Ad Dimasyqi tidak menampilkan pendapat Imam Malik. Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid menyatakan pendapat Imam Malik sama dengan pendapat Imam Hanafi. Disebutkannya bahwa, “Imam Malik dan Hanafi berpendapat, ”Jika berkumpul hari raya dan Jum'at, maka mukallaf dituntut untuk melaksanakannya semuanya.”

Berdasarkan keterangan di atas, dalam masalah ini terdapat 4 (empat) pendapat:

Pertama, shalat Jum'at tidak gugur dari penduduk kota (ahlul madinah) yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jum'at. Sedangkan bagi orang yang datang dari kampung (ahlul badaawi), yang di tempatnya itu tidak dilaksanakan shalat Jum'at, maka gugur kewajiban shalat Jum'atnya. Jadi jika mereka –yakni orang yang datang dari kampung — telah shalat hari raya, boleh mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jum'at. Inilah pendapat Imam Syafi’i. Ini pula pendapat Utsman dan Umar bin Abdul Aziz.

Kedua, shalat Jum'at wajib tetap ditunaikan, baik oleh penduduk kota yang ditempati shalat Jum'at maupun oleh penduduk yang datang dari kampung. Ini pendapat Imam Hanafi dan Imam Malik. Jadi, shalat Jumat tetap wajib dan tidak gugur dengan ditunaikannya shalat hari raya.

Ketiga, tidak wajib shalat Jum'at baik bagi orang yang datang maupun bagi orang yang ditempati shalat Jum'at. Tetapi mereka wajib shalat dhuhur. Demikian pendapat Imam Ahmad.

Keempat, shalat dhuhur dan Jum'at gugur bersamaan dengan gugurnya kewajiban pada hari itu. Jadi, setelah shalat hari raya, tidak ada lagi shalat sesudahnya selain shalat Ashar. Demikian pendapat ‘Atha` bin Abi Rabbah. Dikatakan, ini juga pendapat Ibnu Zubayr dan ‘Ali.

Namun demikian, tetap dianjurkan bagi pengurus/takmir masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya.

Wallaahu A'lam Bisshowaab



Sumber: Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 8: 182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al-Ifta’). 











Rabu, 29 Juli 2020

KOMENTAR MENGGELITIK SEPUTAR PUASA TARWIYAH DAN ARAFAH

Kemarin ada seorang santriwati yang ngechat saya melalui Messenger. Dia bercerita kepada saya bahwa dia telah membuat story di akun medsosnya tentang niat puasa Tarwiyah dan Arafah. Lantas story tersebut dikomentari oleh tetangganya, "Wong Indonesia opo enek sing munggah kaji, arep mosoni sopo?", begitulah komentarnya. Santriwati tersebut kemudian bertanya kepada saya, "bagaimana saya harus menanggapi komentar tetangga saya itu Gus?"

Mungkin di sini saya perlu memaparkan dulu mengenai definisi puasa Tarwiyah dan Arafah beserta fadhilahnya. 

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 Dzulhijah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa-puasa lainnya.

Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah. Rasulullah SAW bersabda :

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas. (HR. Muslim)

Sementara puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan hadits ini dloif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dhoif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam rangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan, Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari)

Puasa Arafah dan tarwiyah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji sedang menjalankan ibadah di tanah suci.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun. (HR Bukhari Muslim). 

Jadi buat mbak santri yang menanyakan bagaimana seharusnya menanggapi komentar tetangganya tadi. Di sini saya ada dua pilihan jawaban. Yakni jawaban yang bijak dan jawaban gerakan cangkem elek (seperti yang sering diutarakan oleh Gus Baha'). Hehehe

Jawaban yang bijak: 
Tadi di atas sudah dapaparkan bahwa telah disebutkan dalam hadist Qudsi: "Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya." Jadi intinya, kita mengamalkan puasa sunnah ini (Tarwiyah & Arafah) dalam rangka fadlailul a’mal (untuk memperoleh keutamaan). Tidak ada kerugian bagi orang yang mengamalkan kebaikan, kita menganut Sunnah Nabi SAW dan semata-mata karena Allah SWT. 

Jawaban gerakan cangkem elek:
"Iki aku poso tak niati gawe masani sampean mbak, ben sampean mundak waras." 😄

Wallaahu A'lam Bisshowaab




Senin, 13 Juli 2020

Antara KHITBAH dan PACARAN ISLAMI


Adakah konsep "Pacaran Islami"?
Manusia adalah makhluk sosial yang mendambakan hidup damai dan harmonis, sehingga sangatlah normal jika manusia mengalami ketertarikan dengan lawan jenisnya. Motivasi untuk bisa mengenal karakter, menyamakan pandangan hidup, dan alasan lainnya seringkali dijadikan alasan pembenaran untuk melakukan pacaran.
Bahkan beberapa pemikir ada yang sedikit peduli dengan kelestarian norma-etik sosial ini, sehingga merumuskan konsep "Pacaran Islami". Bagaimana sebenarnya konsep Islam mengatur hubungan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta?

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَاۤءِ وَٱلۡبَنِینَ وَٱلۡقَنَـٰطِیرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَیۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَـٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَـٰعُ ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ.
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali Imran: 14).

Dalam redaksi ayat di atas dijelaskan bahwa dalam diri manusia memang telah ditanam benih-benih cinta yang suatu waktu bisa tumbuh seketika saat menemukan kecocokan jiwa. Cinta dalam Islam tidak dilarang karena ia berada di luar wilayah kendali manusia, bahkan cinta merupakan anugerah yang harus disyukuri dengan mengekspresikan dan membinanya sesuai norma-etik syariat. Islam dengan ajarannya yang universal telah mengatur seluruh hubungan manusia baik secara vertikal (Hablum Minallaahi) maupun horizontal (Hablum Minannaasi) tak terkecuali hubungan sepasang anak adam yang sedang dirundung asmara.
Istilah pacaran secara harfiyah tidak dikenal dalam Islam, karena konotasi dari kata-kata ini lebih mengarah pada hubungan pra-nikah yang lebih intim dari sekadar media saling mengenal. Islam menciptakan aturan yang sangat indah dalam mengatur hubungan lawan jenis yang sedang jatuh cinta yaitu dengan konsep khitbah (lamaran).
Khitbah adalah sebuah konsep "Pacaran Berpahala" dari dispensasi agama sebagai media yang legal bagi hubungan lawan jenis untuk saling mengenal sebelum memutuskan menjalin hubungan suami-istri. Konsep hubungan ini sangat dianjurkan bagi seorang yang telah menaruh hati kepada lawan jenis dan bermaksud untuk menikah, akan tetapi hubungan ini harus tetap terbingkai dalam nilai-nilai keshalehan sehingga kedekatan hubungan yang bisa menimbulkan potensi fitnah berarti sudah di luar konsep ini.
Nikah dalam Islam bukanlah sekadar untuk singgahan hasrat seksual semata, tetapi merupakan peristiwa sakral yang mempertemukan dua katagoris berbeda dalam satu bahtera tanggung jawab, hak, dan kewajiban untuk saling bersama dalam membina dan mengarungi mahligai cinta guna menyambung estafet kehidupan di masa mendatang. Nikah merupakan ibadah yang dianjurkan agama demi menjalin kebahagiaan bersama dalam kehidupan bahkan sampai hidup lagi (kehidupan akhirat).
Sedemikian sakralnya makna pernikahan, maka khitbah merupakan konsep yang sangat urgen untuk menjembatani kemungkinan akan terjadinya kekecewaan di kedua belah pihak sebelum terjadi ikrar nikah. Lantaran proporsi fundamental khitbah hanya sebagai langkah yang merupakan sarana tahap saling mengenali, maka legalitas kedekatan hubungan dalam konsep ini hanya sebatas memandang wajah dan telapak tangan, karena rahasia fisik dan kepribadian seseorang sudah bisa dimonitor dan disensor melalui aura wajah dan telapak tangan.
Berikut beberapa Hadits Nabi yang memperkenankan melihat wanita yang dikhitbahi dalam batas-batas tertentu :
- Seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW lalu berkata: “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menyerahkan diri saya kepada Anda! Rasulullahpun mengangkat pandangan kepadanya dan mengamatinya dengan saksama. Kemudian beliau menundukkan pandangan. Mengertilah wanita itu bahwa Rasulullah SAW tidak berminat kepada dirinya, maka iapun duduk. Kemudian bangkitlah seorang lelaki dari sahabat beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, jika Anda tidak berminat maka nikahkanlah ia kepada saya.” (H.R Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasa'i).
- “Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah SAW, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar. Rasulullah berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?” “Belum!” katanya. Beliau berkata: “Kalau begitu temui dan lihatlah wanita Anshar itu karena pada mata mereka terdapat sesuatu.” (H.R Ahmad dan Imam Muslim).
- “Jika salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka bila ia bisa melihat sesuatu daripadanya yang dapat mendorong untuk menikahinya hendaklah ia melakukannya.” (H.R Abu Dawud dan Al-Hakim).

Lebih dari itu dalam "Pacaran Berpahala" ini juga diperkenankan duduk dan berbincang-bincang bersama sepanjang tidak sampai bernuansa khalwah (berduaan), seperti dengan disertakan pihak ketiga yang bisa melindungi dari fitnah. Hal ini dikarenakan Makhtubah (baca pacar) bagaimanapun masih berstatus Ajnabiyyah (wanita lain) yang sedikitpun belum berlaku hukum suami-istri.
Jadi, konsep Islam dalam mengatur hubungan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta bukan dengan hubungan tanpa batas atau Pacaran Islami yang diawali dengan "Basmalah" dan di akhiri dengan "Hamdalah", melainkan hubungan yang dibingkai dengan nilai-nilai pekerti luhur dan dihiasi dengan keshalehan sosial.

Semoga bermanfaat....
Wallaahu A'lam Bisshawaab.



Referensi:
Hasyiyah Al-Jamal 4/120.
Fath Al-Mu'iin 3/298.
Al-Fiqh Al-Islaami 9/6507.
Tafsiir Al-Qurthuby 6/340.

Sabtu, 11 Juli 2020

ANTARA CINTA, PERASAAN, DAN KEMATIAN




Jatuh cinta merupakan hal yang paling sering membuat kita kebingungan, salah tingkah, berbunga-bunga namun kadang juga menguras air mata. Rasa cinta yang kita miliki untuk seseorang yang istimewa di hidup kita memang tak bisa disalahkan, meski kadang menyakitkan.
Seperti menyimpan rasa cinta diam-diam yang terkadang kita alami, di mana kita tidak bisa memilih untuk mencintainya namun hati kita bersikeras bahwa dialah orang yang sanggup membuat jantung kita berdegup kencang. Tak jarang, cinta dalam diam berakhir rasa kecewa karena ternyata si dia sudah ada yang punya.
Tidak semua orang mampu atau mau mengungkapkan rasa cintanya, dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Lantas bagaimana terkait dengan masalah perasaan cinta yang terpendam ini kalau dilihat dari perspektif fikih?  Mari kita perhatikan ibaroh di bawah ini:

(ص 180) 8853 - (من عشق فكتم وعف ومات مات شهيدا) قال ابن عربي : العشق التقاء الحب بالمحب حتى خالط جميع أجزائه واشتمل عليه اشتمال الصماء.
Barangsiapa yang jatuh cinta lantas dia menahannya hingga ia mati, maka dia mati syahid. [Faidh al-Qadiir VI/233].

(من عشق) من يتصور حل نكاحها لها شرعا لا كامرد (فعف ثم مات مات شهيدا) أي يكون من شهداء الاخرة لان العشق وان كان مبدؤه النظر لكنه غيرموجب له فهو فعل الله بالعبد بلا سبب (خط عن عائشةمن عشق فكتم) عشقه عن الناس (وعف فمات فهو شهيد) والعشق التفاف الحب بالمحب حتى يخالط جميع أجزائه (خط عن ابن عباس) واسناده كالذي قبله ضعيف.
“Barangsiapa yang jatuh cinta (pada wanita yang semestinya halal untuk ia nikahi secara syara’ tidak jatuh cinta pada semacam amraad (pemuda tampan tanpa kumis) lantas dia menahannya hingga ia mati,  maka dia mati syahid”. Artinya dirinya tergolong syahid di akhirat karena jatuh cinta meskipun berseminya diawali dari pandangan tapi termasuk hal yang tiada dapat ia hindari, jatuh cinta adalah karya Allah pada hambanya tanpa suatu sebab. “Barangsiapa yang jatuh cinta lantas dia menyimpannya (dari terlihat orang-orang) hingga ia mati, maka dia mati syahid.” Jatuh cinta adalah berseminya rasa pada kekasih hingga bercampur di seluruh anggota tubuhnya. Sanad hadits ini dan hadits sebelumnya adalah dho’if. [At-Taysiir Bi Syarh al-Jamii’ as-Shoghir II/833].

SYARAT JATUH CINTA TERGOLONG SYAHID
Disyaratkan kematian yang dapat membawa seseorang tergolong syahid akhirat yaitu:
Iffah, ialah tidak sampai menjerumuskannya pada perbuatan maksiat meskipun sekadar melihat yang diharamkan.
Kitmaan, ialah tidak diekspresikan dengan bentuk ungkapan namun ia pendam dalam hati, meskipun mengungkap perasaan kala seseorang jatuh cinta hukumnya sunnah.
• Yang ia cintai halal untuk dinikahi secara syara’.

نعم الميت عشقا شرطه العفة والكتمان لخبر من عشق وعف وكتم فمات مات شهيدا وإن كان الأصح وقفه على ابن عباس قال شيخنا ويجب أن يراد به من يتصور إباحة نكاحها له شرعا ويتعذر الوصول إليها كزوجة الملك وإلا فعشق المرد معصية فكيف تحصل بها درجة الشهادة اه .[Mughni al-Muhtaaj I/350] .

(قَوْلُهُ وَالْمَيِّتُ عِشْقًا) أَيْ بِشَرْطِ الْعِفَّةِ عَنْ الْمُحَرَّمَاتِ بِحَيْثُ لَوْ اخْتَلَى بِمَحْبُوبِهِ لَمْ يَقَعْ بَيْنَهُمَا فَاحِشَةٌ وَبِشَرْطِ الْكِتْمَانِ حَتَّى عَنْ مَحْبُوبِهِ وَإِنْ كَانَ يُسَنُّ إعْلَامُهُ بِأَنَّهُ يُحِبُّهُ وَمَعَ ذَلِكَ لَوْ أَعْلَمَهُ فَاتَتْهُ رُتْبَةُ الشَّهَادَةِ ا هـ ...وَعِبَارَةُ الشَّوْبَرِيِّ قَوْلُهُ وَالْمَيِّتُ عِشْقًا أَفْتَى الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ عِشْقِ مَنْ يُتَصَوَّرُ نِكَاحُهُ شَرْعًا أَوْ لَا كَالْأَمْرَدِ حَيْثُ عَفَّ وَكَتَمَ إذْ الْمَحَبَّةُ لَا قُدْرَةَ عَلَى دَفْعِهَا وَقَدْ يَكُونُ الصَّبْرُ عَلَى الثَّانِي أَشَدَّ إذْ لَا وَسِيلَةَ لَهُ لِقَضَاءِ وَطَرِهِ بِخِلَافِ الْأَوَّلِ .[Hasyiyah al-Jamaal VII/155]  .

Semoga bermanfaat....
Wallahu A’lam Bisshowab.

Sabtu, 04 Juli 2020

BAHAGIA ITU DICIPTAKAN, BUKAN DICARI


 
"Bahagia itu diciptakan, bukan dicari." Begitulah kira-kira seorang motivator berkata.
Kalau menurut saya sih sepakat banget. Karena tantangan hidup yang kita hadapi, seharusnya tidak ada sangkut pautnya dengan indeks kebahagiaan kita sebagai manusia. Bahagia menjadikan hidup kita lebih mudah untuk dihadapi.
Dalam sebuah buku tentang motivasi yang berjudul "Ikuti Saja Mau-Nya" karya Tendi Murti, di dalamnya disebutkan bahwa; Menurut The New Economics Foundation (NEF) peringkat indeks kebahagiaan Indonesia berada di perpingkat 23. Sementara negara-negara maju yang katanya super power malah jauh berada di bawah Indonesia. Misalnya, Amerika berada di peringkat 150, Inggris peringkat 108, Jerman peringkat 81, Jepang peringkat 95.
Dalam hal ini, peringkat pertama dalam hal kebahagiaan penduduknya justru berada pada sebuah negara yang hanya berpenduduk 209.000 jiwa, yakni negara Vanuatu yang berada di Pasifik Selatan.
Padahal negara ini adalah negara yang masih berkembang. Makanpun seadanya. Namun, justru indeks kebahagiannya tertinggi. Mengapa bisa begitu?
Salah satu indikatornya adalah karena hidup yang serba terbatas, rasa kemanusiaan penduduknya menjadi lebih tinggi. Mereka saling membantu dan saling membicarakan kebaikan. Obrolannya seputar keluarga dan tidak berbicara konsumtif. Ternyata tidak menjamin sebuah negara maju indeks kebahagiaan mereka pun ikut maju. Ini poin pentingnya.
Kalau ditarik ke tantangan hidup kita, maka sebenarnya bahagia itu sederhana. Mau coba?
Coba saja setiap hari Jum'at pagi kalian buat nasi bungkus, lalu bagikan ke orang-orang di jalanan. Ke tukang sapu, tukang becak, dan profesi menengah bawah lainnya, maka indeks kebahagian kalian otomatis meningkat. Sistem hormon di dalam tubuh kita akan mengeluarkan hormon bahagia. Efeknya ada rasa senang dan menyenangkan.
Atau ketika kalian menasihati seseorang dengan hikmah,  lalu orang tersebut menerima, maka indeks kebahagiaan pun bertambah. Atau ketika kalian dikasih masukan dari orang lain dan masukan tersebut memang benar lalu kalian terima dengan legowo, maka indeks kebahagiaan pun akan bertambah.
Jadi, bahagia itu kaitannya dengan hati bukan dengan teknologi. Yah, yang namanya hidup, kalau sekarang kalau tidak kita jadikan sebagai sebuah kebahagiaan, kapan lagi bahagianya?
Misalnya, ada yang bilang seperti ini:
- Saya akan bahagia kalau masa-masa jomblo ini berakhir dengan pernikahan (jadi, selama hidup belum menikah nggak bahagia?).
- Saya akan bahagia kalau sudah punya rumah sendiri (jadi, kalau sekarang masih ngontrak nggak bahagia?).
- Saya akan bahagia kalau hutang-hutang saya lunas (kalau misalkan utangnya 15 tahun lagi cicilannya lunas, berarti nunggu 15 tahun baru akan bahagia?).
Halo gaes, bahagia itu ada dalam hati kita. Pusatkan bahwa hari ini nggak boleh ada siapapun yang merebut kebahagiaan kita. Tantangan hidup yang kita hadapi sejatinya itu adalah bentuk rasa yang harus kita syukuri untuk memperkuat mental kita. Sepakat ya!

Semoga bermanfaat....
Wallau A'lam Bisshowab.

Kamis, 02 Juli 2020

PERLOMBAAN ORANG SHOLEH


Ada salah satu Ustadz terkenal, sebut saja UAH, beliau pernah mengatakan "Kalau anda tidak mampu berlomba dengan orang saleh untuk kebaikan, maka berlombalah dengan para pendosa untuk beristighfar."
Apa yang dibilang oleh ustadz ini cuma ada dua pilihan, yaitu berlomba dengan orang-orang baik, atau berlomba dengan orang-orang yang penuh dengan dosa. Ingin rasanya semua waktu untuk beribadah. Ingin rasanya setiap langkah adalah catatan amal baik. Ingin rasanya setiap lirikan mata adalah do'a untuk mata. Setiap gerakan tangan adalah dzikir untuk akhirat. Setiap detakan jantung adalah detakan menyebut asma-Nya.
Namun, sering sekali kita terjangkit penyakit "Sok iya".
-Sok iya, setiap kali kita bicara "nulislah untuk kebaikan," tetapi hati merasa jumawa karena kesombongan.
-Sok iya, tombol-tombol keybord yang kita tekan, berasa untuk pesan mendatang, padahal hanya untuk narsis-narsisan, ini lho saya penulis, padahal penulis karbitan.
-Sok iya, ide-ide yang kita punya adalah ide yang berasal dari kita, padahal ide itu datang dari-Nya.
Mari kita kembalikan ke hati yang terdalam. Tanyakan pada diri kita sendiri ketika ingin melakukan sesuatu. Cari hal yang paling membuat kita menjadi lebih ingat dengan kampung akhirat.
-Nulislah karena kita tahu kita bodoh
-Belajarlah karena kita tahu ini perintah-Nya.
-Bekerjalah karena kita tahu apa yang kita kerjakan adalah ibadah dan untuk memenuhi kebutuhan.
-Berbisnislah, karena kita tahu dengan berbisnis Allah ingin kita banyak berbuat kebaikan.
-Menjadi ibu rumah tangga yang baiklah, karena ia akan membawa ke surga.
Lakukanlah hal-hal baik karena kita hanya ingin Allah SWT ridho dengan hidup kita. Kalau Allah SWT sudah ridho, semoga pahalanya adalah surga di dunia dan suga di akhirat. Āmīn yā Rabbal 'Alāmīn.

Semoga bermanfaat....
Wallahu A'lam Bisshowab.

Rabu, 01 Juli 2020

JANGAN JADI KOLEKTOR ILMU!


Mari kita perhatikan pesan Rasulullah SAW tentang berilmu dan beramal ini. Dari Al-Khotib Al-Baghdadi: “Sesungguhnya ilmu adalah pohon, sedangkan amal adalah buahnya. Orang yang tidak mengamalkan ilmunya tidaklah dianggap sebagai orang yang berilmu.”
Abu Hurairah Radhiyallahuanhu berkata: “Perumpamaan ilmu yg tidak diamalkan bagaikan harta simpanan yang tidak diinfakkan darinya di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.” (Lihat Iqtidho’ Al-‘Ilmi Al-‘Amal, karya Al-Khothib Al-Baghdadi, hlm. 24).
Dari Abu Barzah Al-Islami, Rasulullah SAW bersabda: “Telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ia ditanya tentang empat hal: (Salah satunya adalah) tentang ilmunya, apa yang sudah diamalkan dari ilmunya tersebut?”
Wah, ngeri juga haditsnya. Kira-kira apa yang akan kita jawab saat ditanya seperti itu di hari kiamat nanti? Ah, mendadak ngeri sendiri. Secara, ilmu yang saya bagikan belum seberapa, belum lagi dikurangi dengan rasa sombong. Misalnya, sudah merasa bisa nulis, merasa sudah banyak berbagi, merasa banyak yang terinspirasi dari tulisan, merasa tulisannya adalah yang terbaik.
Padahal dari semua yang dibagikan, berapa banyak yang sudah diamalkan, dan berkesinambungan? Tambah malu rasanya sama diri sendiri. Mohon maaf ya kalau ada yang kurang berkenan dan merasa tersingung. Hehe.
Lalu pertanyaannya, mengapa harus beramal setelah berilmu? Memang wajib ya mengamalkan ilmu? Jawaban dari pertanyaan di atas serupa dengan mengapa kita harus bekerja setelah lulus kuliah? Apakah itu sebuah kewajiban? Kalau boleh dilogikakan seperti ini:
-Kuliah jurusan pendidikan, setelah lulus ya sebisa mungkin dipraktikkan. Harus bisa mengajar dan lain sebagainya.
-Kuliah jurusan akuntansi, setelah lulus ilmunya dipakai buat bisnis atau perusahan yang membutuhkan jasa akuntansi.
-Kuliah pertanian, setelah lulus ya dipraktikkan, bagaimana supaya pertanian kita tambah sukses dan sejahtera.

“Apakah mutlak harus gitu?” Lha iya, kalau dari awal sudah bisa menentukan fokus arahnya akan ke mana, nggak perlu banyak ngabisin waktu buat nyari-nyari ilmu baru yang nggak banyak dipakai di hidup kita. Simpelnya gini:
-Dapat ilmu nulis, langsung praktik.
-Dapat ilmu bisnis, langsung praktik.
-Dapat ilmu jualan, langsung praktik.

Ini yang sering ditekankan oleh para pebisnis sukses. Ketika mereka dapat ilmu mengenai masalah jualan, langsung praktik. Terbukti ada seorang reseller yang omsetnya bisa tembus sampai puluhan juta. Orang-orang yang berilmu lalu mengamalkan ilmunya, nah ini orang yang ajib. Jangan sampai dibilang kolektor ilmu. Hehehe.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَقَلْبٍ لا يَخْشَعُ وَعَمَلٍ لَا يُرْفَعُ وَدُعَاءٍ لَايُسْمَعُ
“Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', amal yang tidak diangkat (diterima), dan do'a yang tidak didengar.”

Semoga bermanfaat.... 
Wallahu A'lam Bisshowab.

Sabtu, 27 Juni 2020

LIMA PERKARA PENGHALANG KESHOLEHAN SESEORANG



Sayyidina Ali Karomallohu Wajhah pernah berkata:

عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَوْلَا خَمْسَ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِيْنَ اَوَّلُهَا اَلْقَنَاعَة ُبِالجَهْلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ وَالرِّياَ فِى الْعَمَلِ وَالْإعْجَابُ بِالرّأيِ
"Seandainya tidak ada lima perkara di dunia ini, maka manusia akan sholeh semuanya".
Demikian menurut pendapat Sayyidina Ali mengenai lima perkara yang dapat merusak tatanan masyarakat muslim, yang dapat mengakibatkan terjebaknya umat manusia di dalam kenistaan.

Lima perkara tersebut di antaranya yaitu:
1. Merasa senang dengan kebodohan, maksudnya masa bodoh dalam masalah keagamaan. Tidak mau berusaha mencari ilmu agama, sibuk bisnis dan macam-macam pekerjaan demi mencapai cita-citanya.

2. Merasa senang dengan gemerlapnya dunia.

3. Bakhil atas harta yang dimiliki. Sifat tama' dan bakhil itu adalah dua sifat yang tidak dapat terpisahkan (satu paket), sebab orang yang mempunyai sifat tama' pasti diikuti watak bakhil. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah menyinggung masalah tama' dan bakhil yang bisa membuat gelisah lahir dan batin.

الزّهْدُ فِى الدُّنْيَا يُرِيْحُ الْقَلْبَ وَالبَدَنَ وَالرُّغْبَةُ فِيْهَا تُتْعِبُ اْلقَلبَ وَاْلبَدَنَ (رواه الطبرانى).
Zuhud (meninggalkan keduniawian) itu menyenangkan hati dan badan, sedangkan cinta dunia membuat payah hati dan badan.

4. Riya' atau pamer di dalam melakukan suatu amal perbuatan, dan mengharapkan pujian dari orang lain. Rasulullah SAW menegaskan bahwa riya' itu termasuk dalam kategori syirik kecil.  Sebab wujud riya' yang tidak kelihatan, sifat tersebut ada di dalam hati. Para ulama' salaf mengibaratkan sifat riya itu seperti semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada waktu malam hari. Saking halusnya sifat riya' kita seringkali lena dan terjangkit penyakit tersebut.

5. Senang mengunggulkan diri sendiri (ujub). Yaitu merasa dirinya paling sempurna ketimbang orang lain. Sifat ujub dapat mengakibatkan kesombongan.

Demikianlah lima perkara yang dapat menghalangi manusia untuk menjadi orang yang sholeh menurut Sayyidina Ali Karomallohu Wajhah.

Semoga kita dapat mengambil hikmah untuk bahan renungan yang mendalam, untuk kita semua. Aamiin.

Semoga bermanfaat....
Wallahu A'lam Bisshowab.

Rabu, 24 Juni 2020

PRA-WEDDING SYNDROME


Sudah ada lamaran, tapi malah suka ke yang lain, gimana dong? Apa yang mesti saya lakukan? Apakah pernikahan saya dengan calon pasangan harus dibatalkan?
Eittt… jangan terburu-buru ketika mengambil keputusan. Lakukan semua tindakan dengan kedamaian dan ketenangan. Libatkan Allah sebagai Maha Segalanya dalam urusan kita.
Lantas apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan pra-wedding syndrome? Istilah ini saya dapatkan di dalam salah satu buku yang pernah saya baca. Di dalam buku tersebut dijelaskan bahwa pra-wedding syndrome adalah gejala yang muncul di mana seseorang merasa laku atau tiba-tiba banyak orang-orang yang deketin di saat menjelang pernikahannya.
Ketika misalkan kamu menghadapi fase ini kamu harus memperkuat iman, jangan sampai goyah karena adanya rayuan sesaat. Ingatlah, bahwa pernikahan itu bukan sekadar rencana permainan belaka. Namun, pernikahan itu merupakan ibadah sepanjang hayat, kehidupan yang akan kita rajut untuk masa pengabdian hingga ke liang lahat.
Di saat kita merasakan chemistry semu rasa suka pada seseorang, namun kita sudah lamaran, cobalah untuk merenung. Ingatlah Allah dalam segala aktivitasmu. Lakukanlah apa yang sekiranya akan membuatmu menyelesaikan permasalahanmu. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah SWT melarang umat muslim melamar pinangan di atas pinangan orang lain (saudara seiman). Sebagaimana hadis riwayat Ahmad dan Muslim mengatakan bahwa:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ص قَالَ: الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ فَلَا يَحِلُّ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَبْتَاعَ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلَا يَخْطُبَ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَذَرَ. (أحمد و مسلم)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin itu saudara orang mukmin yang lain, maka tidak halal bagi seorang mukmin menawar atas tawaran saudaranya, dan tidak boleh ia meminang atas pinangan saudaranya sehingga saudaranya itu meninggalkannya.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Dari hadis di atas sudah jelas bahwasanya kita dilarang menerima atau meminang di atas pinangan orang lain, kecuali atas dasar persetujuan dari pihak pertama yang berperan sebagai pinangan pertama.
Aturan seperti ini jelas merupakan buah dari proses yang panjang. Sebab, jika dalam hidup ini tidak ada aturan seperti ini, bagaimana nasib orang-orang yang tak berdosa nanti? Kalau istilah jaman sekarang dikenal dengan istilah “main tikung aja”. Hehe
Nah, jadi sebagai umat muslim, harusnya kita patuh dan taat akan segala aturan Allah SWT dan yang telah mencontohkan kehidupan kepada kita, yakni Rasulullah SAW. Jika kita sudah melaksanakan lamaran, cobalah untuk selalu menjaga diri dengan baik, jangan lirak lirik kanan kiri, hingga ada celah yang bisa dimasuki setan, membuat kamu tergoda oleh sosok yang dibisikkan bahwa seakan-akan lebih baik.
Perlu diingat pula, bahwa setan tidak menyukai orang yang hendak menikah. Maka, setan akan melakukan berbagai cara untuk menggoda dan menggoyahkan i’tikad baik dari diri kita. Semoga Allah SWT senantiasa membersamai hidup kita sampai ajal menjemput. Aamiin.

Semoga bermanfaat....
Wallahu A’lam Bisshawab.






Selasa, 23 Juni 2020

TRESNOKU TERHALANG ITUNGAN JOWO


Dalam rangka mengisi kegiatan liburan semester genap tahun akademik 2019/2020 DEMA FTIK IAIN Tulungagung mengadakan kajian kitab virtual (online). Kitab yang dikaji yaitu kitab Qurratul ‘Uyun (kitab tentang pernikahan). Pengajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Ahmad Fikri Amrullah, M.Pd.I.  
Pada kesempatan yang lain ada seorang mahasiswa yang bertanya mengenai kepercayaan orang tauanya mengenai hitungan jawa/primbon. Mahasiswa tersebut bertanya demikian: “Assalamu’alaikum Ustadz, orang tua saya masih percaya perhitungan primbon jawa termasuk dalam urusan menentukan kecocokan pasangan hidup. Apabila orang tua saya mendasarkan restu/ridhonya atas dasar perhitungan primbon jawa tersebut apakah saya wajib mengikutinya? Karena jika tidak mengikuti orang tua, saya takut kualat. Terima kasih.”

Jawaban:
Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Penanya yang dirahmati Allah, Allah SWT telah menghendaki kepada kita semua bahwa semua hari itu baik, dan ini termasuk penanaman pola pikir positif.
Primbon atau perhitungan Jawa yang banyak dipakai orang untuk memulai sesuatu pekerjaan, memberi nama anak atau bayi, menghitung nasib, karakter, peruntungan, jenis pekerjaan, jodoh, cinta, berdasarkan perhitungan tersebut tentu saja hal itu hanya sebuah peradaban yang tidak bisa dijadikan pegangan.
Ramalan bintang atau primbon adalah ilmu rekaan yang menghubung-hubungkan pergerakan bintang dalam sistem tata surya dengan sesuatu yang akan terjadi kemudian di kehidupan manusia. Menurut Islam, bintang-bintang itu adalah sebagian dari makhluk Allah SWT yang tunduk akan sunnah-Nya.
Jadi orang yang mempercayai ramalan bintang sebagai sesuatu yang benar, maka ia termasuk orang yang kufur. Mempercayai weton sebagai sebab kesialan atau keberuntungan termasuk bentuk syirik kecil karena keyakinan terhadap suatu “sebab” padahal dia bukan “sebab” adalah bentuk tiyarah (menganggap sial atas apa yang dilihat, didengar, atau diketahui), dan tiyarah itu dihukumi sebagai syirik kecil. Terutama, jika hal ini dijadikan alasan untuk menunda suatu rencana.
Dari Anas bin Malik R.A. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak boleh ada tiyarah, dan saya suka optimisme!” Beliau ditanya, “Apa maksud ‘optimisme’?” Beliau menjawab, “Kalimat yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam sebuah hadits lain juga dijelaskan:
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad No. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Persoalan nasib, jodoh, rezeki, mati, dan hari baik itu hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Manusia diberikan kesempatan oleh Allah untuk merencanakan dan berusaha semaksimal mungkin. Artinya, kita bisa merancang masa depan nasib, jodoh, rezeki, kecuali mati dengan kemampuan yang baik pula. Kalau sudah berusaha dengan maksimal, baru tawakal kepada Allah agar tidak menjadi hamba yang sombong.
Sedangkan dalam masalah wajibkah mentaati orangtua yang memerintahkan anaknya pada perbuatan maksiat, kalau tidak ditaati takut “kuwalat”. Perlu diketahui bahwa taat kepada orang tua adalah suatu kewajiban bagi seorang anak. Namun hal ini tidak berlaku mutlak.
Ketaatan pada keduanya mesti diselaraskan dengan kesesuaian pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika orang tua menyuruh kita untuk meninggalkan shalat, tentu tidak boleh ditaati. Begitu pula ketika orang tua menyuruh untuk mencopot jilbab, mempercayai primbon, dan lain sebagainya maka tidak boleh memaksakan kehendak pada anak. Karena semua itu adalah hak Allah yang mesti didahulukan daripada ketaatan pada orang tua. Rasulullah SAW bersabda:
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda:
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.
“Mendengar dan taat pada seorang muslim pada apa yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada mendengar dan taat.” (HR. Bukhari No. 7144).
Rasulullah SAW bersabda:
أَطِعْ أَبَاكَ مَا دَامَ حَيًّا وَلاَ تَعْصِهِ
“Tatatilah ayahmu selama dia hidup dan selama tidak diperinahkan untuk bermaksiat.” (HR. Ahmad. Dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth bahwa sanadnya hasan)
Maka tidak wajib menaati orang tua yang memerintahkan kepada kemaksiatan. Saran kami berusahalah untuk menyampaikan kepada orang tua tentang pemahaman agama yang benar dengan cara yang hikmah (bijak).

Semoga Bermanfaat….
Wallahu A’lam Bisshowab.

Referensi: https://bimbinganislam.com/primbon-jawa-ngitung-weton-sebelum-menikah/

Senin, 22 Juni 2020

KETIKA TUHAN CEMBURU DENGAN MEDSOS



Media sosial adalah media untuk memperpendek jarak (yang jauh menjadi dekat). Selain itu medsos juga sebagai sarana untuk memudahkan komunikasi dan mempererat silaturrahmi. Namun ketika media sosial dijadikan tempat untuk mengeluh, dengan membuat status tentang apa yang dirasa, apa yang dijalani bisa jadi malah membawa malapetaka.
Banyak status di medsos yang isinya hanyalah ungkapan kesedihan atau persoalan yang nggak penting, misalnya bertengkar dengan teman, pacar atau kekisruhan keluarga. Ini menjadikan si pemilik akun malah tidak menemukan solusi, karena teman di medsos hampir bisa dipastikan tidak saling mengenal secara personal.
Tak terbantahkan lagi, teman dalam medsos adalah peluang bagi kita untuk mengembangkan komunikasi, bagi sebagian orang medsos adalah peluang untuk mengembangkan usaha, sebagaian lagi untuk mencari hiburan, sebagiannya lagi hanya sekadar iseng mengisi waklu luang.
Tak salah memang berkeluh-kesah, tetapi jika kita salah alamat dalam berkeluh kesah itu malah akan menjadi masalah baru bagi kita.  Apapun itu, permasalahan yang kita punya haruslah tetap menjadi rahasia kita, kecuali, kita mempunyai orang yang bisa kita percaya untuk saling berbagi rasa.
Mencurahkan keluh kesah di medsos secara tidak langsung berarti kita telah mengumbar aib diri kita sendiri. Medsos adalah cara bersosialisasi secara virtual. Sebagaimana komunikasi virtual, tanpa ada tatap muka dan rasa hati akibat interaksi secara personal, tentunya kita sulit untuk memahami kualitas lawan berinteraksi kita.
Di dalam medsos kita berhadapan dengan pribadi-pribadi yang mempunyai latar belakang berbeda, baik suku, agama, ras, dan golongan. Tentunya menjadi riskan jika kita menulis status di medsos tentang persoalan kita, karena teman di medsos kita tidak akan mengerti konteks pesoalan yang kita punya.
Apakah kita membagi persoalan di medsos untuk mencari solusi? Sepertinya bukan, karena sebagaimana yang terjadi, kebanyakan mereka hanya mengumbar penderitaan untuk dikasihani orang lain. Ketahuilah, di medsos semua orang punya persoalan sendiri-sendiri untuk diselesaikan sendiri-sendiri.
Salah satu tanda tinggi tauhid seseorang adalah menyandarkan diri hanya kepada Allah SWT. Allah adalah tempat paling pertama sebagai tempat ia mengadu semua permasalahannya, curhat, dan bahkan menangis kepada Allah.
Sebaliknya, salah satu tanda kurangnya tauhid seseorang adalah ia lupa kepada Allah. Ketika ada masalah, ia langsung mengadu kepada makhluk, mengadu kepada keluarga dan sahabat. Bahkan sebagian lagi ada yang mengadu di medsos sehingga seluruh dunia tahu kita sedang dirundung musibah atau masalah.
Sebagai seorang hamba hendaknya memprioritaskan Allah dalam segala urusan, karena Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan dan memberikan segalanya. Ketika mendapatkan masalah dan musibah, hendaknya kita langsung mengadu kepada Allah pertama kali. Sebagaimana teladan dari para nabi dan orang shalih.
Nabi Ya’qub AS misalnya, ketika mendengar berita sangat menyedihkan, yaitu anak kesayangannya Nabi Yusuf diberitakan telah dimakan oleh srigala. Seketika itu beliau langsung mengadu kepada Allah dan berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf: 86)
Orang yang bersabar dan tidak menceritakan masalah/musibah pada orang lain akan mendapatkan keutamaan yang besar. Allah berfirman dalam Hadits Qudsi: “Jika Aku (Allah) memberikan cobaan (musibah) kepada hamba-Ku yang beriman sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya, maka Aku akan melepaskannya dari tahanan-Ku (penyakit) kemudian Aku gantikan dengan daging yang lebih baik dari dagingnya juga dengan darah yang lebih baik dari darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).” (HR. Al-Hakim)
Mungkin ada pertanyaan yang muncul, apakah benar-benar tidak boleh bagi seseorang untuk menceritakan musibahnya kepada orang lain secara mutlak? Jawabannya: boleh saja, asalkan ia menceritakan dalam keadaan tegar, memuji dan bersyukur kepada Allah serta dengan tujuan musyawarah dan untuk mencari solusi dari musibah yang sedang ia hadapi.
Penting diperhatikan juga bahwa orang yang ia ceritakan itu adalah orang yang benar-benar seratus persen bisa membantunya dalam masalah/musibah ini, bukan menceritakan musibah kepada semua orang.
Allah itu senang apabila ada hambanya yang membutuhkan dan meminta hanya kepada-Nya, ketika hambanya sedang dirundung masalah langsung memohon kepada-Nya. Namun, ketika hambanya sedang dirundung masalah lantas malah langsung berkeluh kesah dan menuliskan keluh kesahnya di status FB atau WA, maka saat itulah Allah cemburu kepada hamba-Nya.
Ada beberapa manfaat medsos yang harusnya bisa kita pakai untuk meningkatkan eksistensi kita dalam bersosial, misalnya untuk membagi karya kita, baik itu karya tulis maupun karya visual. Namun peluang ini ternyata banyak yang terabaikan karena tak jarang medsos hanya jadi sarana berkeluh kesah.
Stop mengumbar penderitaan dan keluh kesah via medsos. Jadikanlah medsos untuk memasarkan potensi kita. Berkaryalah dan berbagilah di medsos dan jangan menjadi naif hanya dengan memunculkan penderitaan dan berharap belas kasihan orang lain.

Semoga Bermanfaat….
Wallahu A’lam Bisshowab.